RSS

Gak akan Bosen ke Bandung

30 Mar
Gedung Sate, ikon Kota Bandung (Ist/isiea.org)

Gedung Sate, ikon Kota Bandung (Ist/isiea.org)

Bandung. Mendengar nama kota ini selalu memunculkan antusiasme saya. Yang terlintas adalah hawa dingin, anak-anak muda yang kreatif (plus rata-rata mereka kece dan modis. tuing! tuing!), surga kuliner dan belanja, factory outlet bejibun, wisata alamnya, dan keramahan penduduknya (gak khawatir nyasar, banyak orang baik yang bantuin).

Tak heran, kota ini jadi tujuan favorit liburan weekend, apalagi long weekend, selain Bogor. Selain karena jarak yang cukup dekat dan mudah dijangkau dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, Bandung memang gak pernah ngebosenin untuk dikunjungi.

Sebenarnya saya punya banyak saudara di sana. Namun justru baru sekarang-sekarang ini saya niat jalan-jalan di Bandung hehehe. Soalnya selama ini kalau ke Bandung pasti acaranya ya kumpul saudara, kemana-mana diantar, dimanjakan, malah jadi bikin males explore. Kalau gak ke rumah saudara, biasanya tugas liputan. Ya cuma jalan-jalan sekedarnya aja mengingat lebih mentingin tugas kantor.

Nah, Desember lalu adalah eksplorasi pertama saya di Kota Kembang ini (kemane aje neng). Saya berdua dengan teman saya Nenot, mengambil cuti liburan untuk mampir di Bandung sebelum ke Jogja.

Nenot ini teman kuliah yang cocok jalan sama saya. Minatnya kurang lebih hampir sama. Kalau pun ada perbedaan, tingkat toleransi di antara kami cukup tinggi.

Si Nenot yang jauh-jauh dateng dari Bangka ini juga ngaku gak pernah bosen ke Bandung. Dia sudah beberapa kali berkunjung, tapi seringnya wisata belanja dan kuliner. Saya kurang suka sama kulineran atau menyengaja belanja. “Kita wisata alam aja ya Not,” ajak saya.

Nenot gak pake mikir langsung setuju. “Hayuk broth, gue pengen banget ke Kawah Putih. Itu kerennn!,” kata Nenot semangat sambil nari hula-hula (bohong ding..)

Kami punya waktu tiga hari dua malam. Tapi waktu efektif yang harus kita manfaatkan cuma dua hari karena hari ketiganya pagi-pagi kita cusss ke Jogja. Diputuskanlah menjelajah Lembang di hari pertama dan Ciwidey di hari kedua.

Lembang

Tujuan utama saya ke Lembang sebenarnya mengunjungi Observatorium Bosscha. Kalian yang tahu era hitsnya film ‘Petualangan Sherina’ pasti setuju, Bosscha jadi terkenal dan banyak orang penasaran ke sana gara-gara film ini.

Nostalgia Sherina-Saddam

Saya salah satu fans berat film ini. Dulu, film ini saya tonton berkali-kali sampai VCD-nya bapuk dan beli lagi. Sekarang pun masih suka iseng nonton di YouTube. Saking tergila-gilanya, saya sama saudara sepupu namanya Fasa yang juga ngefans ama film ini, sampai hafal sama dialog-dialog di filmnya πŸ˜€

Nah, itu udah lama banget kan filmnya, dan baru sekarang saya niatin ke Bosscha (ngook). Untungnya, akses menuju Lembang ternyata cukup mudah. Hasil Googling (makasih banget sama traveler yang menuliskan pengalaman perjalanan dan rute kendaraan umum. Very helpful!), ada banyak angkot kok ke sana.

Kalau saya dan Nenot, karena berangkat dari penginapan di daerah terminal Dago, perlu tiga kali naik kendaraan. Berikut rutenya.

Naik angkot jurusan Kalapa – Dago, turun di persimpangan Gelael ( Rp 2 ribu)

Nyambung Cicaheum – Ledeng yang arah Ledeng, turun di terminal Ledeng (Rp 2.500)

Lanjut naik mobil Elf (bisa juga bis) ke Subang (Rp 3.000). Minta turunin di Bosscha deh..

Alternatif lainnya:

Kalau teman-teman naik kereta, dari Stasiun Hall Bandung naik angkot St Hall-Lembang dan turun langsung di gerbang bawah Observatorium Bosscha. Yap! Sekali naik angkot aja.

Kalau naik bus yang turunnya di terminal Cicaheum, naik angkot Cicaheum-Ledeng turun di Terminal Ledeng. Lanjut naik St Hall-Lembang dan turun di gerbang bawah Observatorium.

Pemandangan menuju observatorium Bosscha (nisbroth)

Pemandangan menuju observatorium Bosscha (nisbroth)

Sebelum berkunjung, saya sudah tahu kalau Bosscha bakal tutup. Peneropongan bintang ini biasa tutup pada hari Senin untuk perawatan dan hari libur nasional. Kebetulan pada hari itu memang pas Senin dan tanggal merah pula. Huff.. mau bagaimana lagi? Bisa ke Bandungnya pas di saat yang kurang tepat.

Jadilah saya cuma foto-foto di luarnya. Tapi itu pun saya udah seneng banget. Setelah berjalan menanjak cukup jauh dari bawah, akhirnya saya melihat langsung kubah Bosscha yang ikonik itu! Keracunan momen ‘Sherina’, saya kumat monolog script dialog filmnya. Pulang dari situ saya berkali-kali niruin part dialog-dialog di film Sherina.

“Yaudah Pak Endang gak perlu ikut, tapi jangan jalan ke Bosscha, terlalu jauh. Jalan-jalan sekitar perkebunan kita aja kan cukup jauh.” (kata Didi Petet yang jadi bapaknya Saddam dengan logat Sunda)

“Bosscha itu jauh yang, mami khawatir kamu kenapa-kenapa. Kalau asmanya kumat gimana?,” (ini kata ibunya si Saddam)

“Saddaaam.. jadi begitu ya kalau kamu lagi marah?” (ni waktu Sherina di hutan nyariin Saddam. Suaranya bergema dan ada echonya: Saddam.. daammm… daammm)

Nenot sampe eneg banget denger saya monolog. Masih bagus dia gak tutup kuping atau parahnya males jalan ama saya dan balik ke Bangka bwahahahaha..

Karena Bosscha tutup, kami gak lama-lama di sana. Foto-foto cukup lah. Foto narsis yang ada sayanya hhehe.. dan foto Bosscha dan lingkungan sekitarnya untuk eksis sambil share informasi di Instagram :p

Peneropongan bintang Bosscha di Lembang (nisbroth)

Peneropongan bintang Bosscha di Lembang (nisbroth)

Gak cuma satu kebun strawberry

Next destination adalah kebun strawberry. Yang terdekat, bisa dijangkau gak sampai lima menit naik angkot dari Bosscha. Naik angkotnya kata penjaga Bosscha cukup bayar Rp 1.000 karena emang dekat. Ah, tapi gak enak sama mamang angkotnya. Saya di Bogor jarak deket tinggal ngelepeh aja bayar Rp 2 rebu. Jadi, kami bayar Rp 2.000 per orang aja deh.

Gak terlalu istimewa sih. Kebun strawberry-nya pas bukan musimnya panen kayanya. Ada banyak pengunjung yang metikin juga jadi gak terlalu bagus keliatan di fotonya. Kita kan ke situ emang niatnya foto kebun dan bergaya sok-sok manen strawberry πŸ˜€

Kebun Strawberry Lembang (nisbroth)

Kebun Strawberry Lembang (nisbroth)

Di sekitar kebun strawberry itu, ada tempat makan juga. Selesai (belagak) memanen strawberry, ehhh hujan turun dengan derasnya. Ini udah diprediksi sih sebelumnya. Karena kita jalan-jalan emang pas musim hujan juga. Menunggu reda untuk melanjutkan perjalanan berikutnya, kita makan dulu deh di situ.

Menunya lumayan bervariasi. Tempat makannya model food court yang seluruh bangunannya dari bambu. Tiap saung nawarin makanan berbeda dan kita dipersilakan pesan makanan di situ, bayarnya di satu kasir pas mau pulang di depan.

Nyebelinnya, makanan di sini gak pake daftar harga. Gondok kan kalau tiba-tiba harganya digetok. Kebiasaan orang Indonesia banget nih. Saya tanya harganya berapa, si pelayan jawab “Nanti bisa dilihat di kasir waktu bayar.” Yeeeee.. oneng!

Tapi yaudah lah, akhirnya makan juga kita. Bismillah aja. Tenang aja.. baru gajian kok, dompet masih tebel *prett* Bukan saya su’uzon ya, tapi waspada dengan tindak ‘penggetokan harga’ sekaligus upaya hemat πŸ˜€ Untungnya waktu bayar, ya ternyata masuk akal lah harganya.

Hujan reda, lanjut lah kita ke Tangkuban Perahu! yeiyyy! Hasil Googling, dari kebun strawberry itu cuma sekali naik aja untuk sampai di gerbang Tangkuban Perahu. Naik angkot atau bis yang arah ke Subang.

Oh iya, dalam perjalanan ke Tangkuban Perahu, ternyata kami menemukan ada beberapa kebun strawberry yang lebih cakep. Haiyyaahhh! Setidaknya ada empat kebun strawberry dari Bosscha ke Tangkuban Perahu. Si kebun strawberry dekat Bosscha yang pertama kami temui itu sangat diuntungkan dengan posisi strategisnya. Yang baru ke sana pasti mengira itulah kebun strawbery yang sering diliput acara jalan-jalan di TV. Padahal mah banyaaakk gak cuma itu doang.

Jadi saran saya, kalau kalian mau ke kebun strawberry di daerah Lembang, jangan buru-buru ketika melihat kebun pertama. Tanya mamang angkot aja, di mana lagi kebun strawbery selanjutnya. Yang gak terlalu ramai orang, kebunnya lebih bagus dan buah strawberrynya tentunya lebih banyak.

Nawar omprengan

Jreng jreeng.. ceritanya kita udah turun angkot nih di depan gerbang Tangkuban Perahu. Dari kebun strawberry dekat Bosscha ke Tangkuban Perahu ongkosnya Rp 4.000. Urusan belum selesai. Yang agak ribet itu adalah kendaraan dari gerbang menuju kawasan Tangkuban Perahunya. Di dekat gerbang itu sudah nongkrong mobil omprengan menawarkan untuk mengantar ke atas kawah.

Jarak dari gerbang ke atas kurang lebih 4 km. Kalau jalan kaki dijamin gempor. Berdasarkan cerita di berbagai blog, saya dan Nenot sudah mengantisipasi penawaran jasa omprengan ini bakal digetok harganya.

Benar saja. Tebak, berapa ongkos yang ditawarkan? Rp 70 ribu sekali jalan termasuk tiket masuk. Edan! Mamangnya bilang nggak perlu nunggu penumpang lain alias langsung berangkat.

Belagak jual mahal dulu lah kita. “Nggak ah, mahal banget. Kita jalan aja deh,” kata saya dan Nenot pada si mamang omprengan. Padahal sambil ngomong gitu dalam hati gak pede juga. Yakin lo jalan kaki? Yakin tuh kaki gak bakal nekuk-nekuk?. “Dua puluh wae atuh mang, uah uih.” Saya mulai menggunakan bahasa setempat dengan maksud dia akan luluh. Artinya, dua puluh ribu aja ya mang pulang pergi.

Nenot pun mulai beraksi. Sambil nawar gitu kita akting jalan ke atas tapi dikit-dikit ngelangkahnya hihihihi.. Sebenarnya soal tawar menawar ini saya dan Nenot bukan jagonya. Tapi yah apa salahnya mencoba, untung-untungan kan. Akhirnya, entah bagaimana detailnya saya kurang ingat, yang jelas akhirnya kita sepakat bayar Rp 50 ribu per orang pulang pergi sudah dengan tiket masuk.

Di omprengan itu, ada juga pasangan mbak dan mas. Waktu bayar, saya lihat mereka ngeluarin duit Rp 150 ribu untuk berdua. Omaigat, turunan juragan kebon kali nih orang gak pake nawar kayanya. Sempat melirik si masnya waktu lihat saya dan Nenot kasi duit ke si mamang omprengan, terus bisik-bisik sama si mbaknya. Nyesek kali dia bayar lebih mahal, atau malah ngomongin saya dan Nenot, anggep kita kere? husssssh ah, su’uzon!

Membandingkan dengan mereka, tentu saja hasil tawar menawar kami Rp 50 ribu pulang pergi udah murah. Yasudahlah. Ehhh tapi belakangan pas pulang kita bareng sama rombongan anak-anak kuliahan mereka bisa nawar lebih murah lagi. Karena banyakan, dan salah satu dari mereka emang kayanya sadis nawar, dapet Rp 30 ribu per orang pulang pergi. Huuukssss 😦

Tiket masuknya sendiri harganya pada waktu itu (Desember 2012) masih Rp 13 ribu dan harga khusus untuk turis asing Rp 35 ribu. Kalau bawa kendaraan roda dua bayar Rp 4 ribu dan kendaraan roda empat Rp 9 ribu. Sedangkan untuk bus dikenakan biaya Rp 17.500

Sayang, di Tangkuban Perahu saya dan Nenot tidak menikmati pemandangan sepenuhnya. Hujan deras kembali mengguyur saat kami tiba di sana. Alhasil, selain lepek kebasahan kita juga gak tahan lama-lama karena bau belerangnya sangat menusuk di kala hujan, ditambah hawanya jadi tambah dingin dan kabut tebal.

Salah satu kawah di Tangkuban Perahu (nisbroth)

Salah satu kawah di Tangkuban Perahu (nisbroth)

Selain Bosscha, kebun strawberry (inget ya ada banyak kebun) dan Tangkuban Perahu, Lembang masih menyimpan destinasi lainnya yang tidak kalah seru.

Kita bisa berpetualang di Taman Nasional Maribaya, mandi air panas di Ciater, merasakan kesegaran Curug Cimahi, bergaya ala koboi di De Ranch, atau bersantai di Situ Lembang. Tapi yaahh, saya dan Nenot baru sempat ke tiga tempat itu. Next, kalau ke Lembang lagi saya mau ke tempat yang belum dikunjungi.

Oh iya, saya tetep mau ke Bosscha lagi. Kan belum masuk ke dalamnya. Saya mau ikutan kegiatan observasi dan short course-nya nanti kalau ke situ lagi. Janji!

Ciwidey

Semula agak ragu sih mau ke Kawah Putih. Niatnya saya ke Bandung kemarin cuma pengen ke Tangkuban Perahu dan Bosscha di Lembang. Berdasarkan hasil (lagi-lagi) Googling, Lembang itu di Bandung Barat dan Kawah Putih di Ciwidey, itu daerah Bandung Selatan dan kita nginep di Dago.

Dari Dago ke Lembang sih boleh dibilang deket. Tapi dari Dago ke Ciwidey, itu jauh banget. Ditambah lagi beberapa teman dan saudara di Bandung yang watsapp-in saya, begitu saya bilang mau ke Kawah Putih pada bilang “Aduh jauh amat mainnya”.

Agak jiper sih. Emang jauh banget ya? Tapi saya gak menampilkan keraguan saya di depan Nenot. Kesian dia, pengen banget terlihat dari tatapannya yang nanar penuh pengharapan hahahaha.. Karena Nenot niat banget, saya jadi tertular semangatnya untuk challenge satu ini.

Keesokan paginya, jam 6.30 pagi kelar sarapan, udara masih dingin dan jalanan belum terlalu ramai, saya dan Nenot langsung memulai perjalanan. Biar lebih mudah, untuk menuju Ciwidey menggunakan angkutan umum, kita disarankan naik kendaraa apapun yang ke terminal bus Leuwipanjang, terletak di Jalan Soekarno Hatta.

Kalau sudah di sini, kita tinggal naik angkutan dua kali untuk bisa sampai di depan pintu masuk Kawah Putih. Kalau saya dan Nenot, karena berangkat dari Dago, maka untuk menuju ke Leuwipanjang terlebih dahulu harus dua kali naik.

Pertama, naik yang ke Dipati Ukur. Ini jaraknya dekat, cuma sekitar 5 menit (di pagi hari ya, gak macet) ongkosnya Rp 2 ribu. Di Dipati Ukur itu ada pool bis Damri yang ke Leuwipanjang. Naiklah kami dengan membayar Rp 2.000. Murraaaaahh, padahal jauh loh. Perjalanan kurang lebih 30 menit (sekali lagi, ini jalanan masih sepi, gak pake macet).

Di terminal Leuwipanjang, silahkan mencari kendaraan yang menuju Terminal Cibeureum, Ciwidey. Kita punya dua alternatif angkutan untuk sampai di Terminal Cibeureum, bisa naik bus atau angkot.

Tarif untuk bus dan angkot yang menuju Terminal Cibeureum Rp 7 ribu per orang. Setelah sampai di Cibeureum, kita tinggal satu kali lagi naik angkot jurusan Cibeureum-Patenggang dan tarifnya Rp 5.000 per orang.

Dari terminal Cibeureum ini, tak jarang si supir angkot nawarin untuk langsung masuk ke atasnya, ke Kawah Putih. Tentunya, lagi-lagi dengan tawar menawar. Dari sekian banyak penumpang angkot, cuma saya dan Nenot dan sepasang orang pacaran yang mempertimbangkan penawaran ini.

Si mamang nawarin Rp 75 ribu per orang, sudah termasuk tiket, pulang pergi dan kita ditungguin sampai selesai di sana. Si pasangan pacaran ini untungnya asik dan bisa diajak kerjasama. Mereka setuju dengan tawaran itu, tapi coba ditawar lagi.

Belajar dari pengalaman sebelumnya di Tangkuban Perahu, saya pun mencoba menawar pakai bahasa Sunda. Gak bisa nawar sadis sih, tapi lumayan lah akhirnya sepakat kena Rp 55 ribu per orang.

Si mamangnya sepertinya tahu kalau saya khawatir dia ‘kabur’ dari tanggung jawab. Saya menawarkan untuk bayar di muka dulu, pembayaran dilunasi setelah dia mengantar kami pulang sampai terminal Cibeureum. Eh, mamangnya malah rela dibayar penuh nanti aja kalau sudah selesai, bahkan termasuk nalangin bayar tiketnya dulu. Yaudah lah, cusss kita berempat.

Enaknya lagi, nih angkot jadi berasa sewa mobil private. Mamangnya nawarin untuk berhenti di Indomart untuk beli makanan dan ke toilet. Dalam perjalanan itu kita jadi punya teman baru. Ngobrol-ngobrol, si pasangan pacaran itu namanya Ayu dari Jakarta. Dia sama cowoknya (lupa namanya) kerja di Bawaslu, depan Sarinah di jalan M.H Thamrin.

Oh iya, sepanjang perjalanan dari terminal Cibeureum ke Kawah Putih itu, di kiri kanan jalan banyak kebun sayuran. Cakeeeeppp bangett.. Eh iya, di sini juga banyak kebun strawberry yang bisa metik sendiri. Jadi agak gondok inget kebun strawberry yang kemarin di Lembang. Sebenernya si mamang angkot bersedia sih kalau kita minta berhenti dulu untuk ambil foto, tapi lagi-lagi mendung. Kami ingin cepat sampai di atas sebelum hujan turun.

Setelah dihitung-hitung, kami memang membayar sedikit lebih mahal, tapi worth it. Artinya, dengan nambah dikit kita gak perlu repot lagi antre dan cari kendaraan ke atas, begitu juga dengan pulangnya.

Kalau gak nyarter angkot, dari gerbang setelah angkot dari Cibeureum (Rp 5 ribu), kita naik mobil kaya odong-odong karnaval yang disediakan di Kawah Putih (Rp 10 ribu). Antre dulu, beli tiket dulu (Rp 15 ribu). Pulangnya, antre lagi naik odong-odong (Rp 10 ribu lagi) sampai di gerbang. Terus masih harus cari angkot lagi ke Cibeureum (Rp 5 ribu). Total ongkos pake cara ini Rp 45 ribu.

Nah, dengan nyarter kita gak perlu antre tiket dan odong-odong. Pulangnya udah jelas ditungguin dan diantar sampai terminal Cibeureum. Nambah Rp 10 ribu gak apa kan. Oh ya, total perjalanan saya dan Nenot dari Dago ke Kawah Putih kurang lebih 3,5 jam udah termasuk macet-macet dan ngetem-ngetem.

Sepotong surga

Dan.. sampailah kami di Kawah Putih. Kalimat pertama yang terlintas di benak saya begitu tiba di sana adalah, “Mungkin ini sepersekian bagian kecil dari potongan surga yang dihadirkan Tuhan di sini”. Indah bangetttt… Perjalanan jauh terbayar tuntas hanya dengan memandangi Kawah Putih.

“Broth, fotoin gue,” teriakan Nenot membuyarkan lamunan saya. “Bentar Not, gue mau foto-fotoin sekelilingnya dulu,” kata saya. Ya, apalagi kalau bukan buat dipamerin di Instagram hehehe..

Saya sudah pernah ke Kawah Putih sebelumnya, tapi waktu masih kecil, jaman SD sama rombongan kantor papa. Dan waktu itu saya cuma tau jalan-jalan. Gak memperhatikan detail untuk difoto atau dituliskan di blog.

Air di Kawah Putih bisa berubah-ubah warna (nisbroth)

Air di Kawah Putih bisa berubah-ubah warna (nisbroth)

Kawah Putih memang memiliki pemandangan yang cantik. Kabut tebal kerap meliputi sekeliling kawah terutama setelah hujan turun. Bikin serasa di alam mimpi! Air danaunya terkadang berwarna hijau telur asin, bergradasi biru muda, putih, atau bahkan cokelat susu bergantung dari konsentrasi belerang.

Di sekelilingnya, tumbuh pepohonan kering atau berdaun jarang. Menurut saya pepohonan ini menambahkan sedikit kesan kelam namun puitis dan romantis πŸ™‚

Sedang asyik foto-foto, hujan turun. Tapi saya dan Nenot bertahan di situ. Kabut semakin tebal dan tampak asap-asap dari air membumbung membuat suasana danau serasa magis. Hujannya kaya ngeledek, sebentar hujan, sebentar reda. Makanya saya dan Nenot masih bersabar menunggu hujan berhenti. Saat reda, kami lanjutkan foto. Saat hujan, kami menepi. Berpayung, menikmati pemandangan. Kerennnn!!

Nuansa puitis magis di Kawah Putih (nisbroth)

Nuansa puitis magis di Kawah Putih (nisbroth)

Sayangnya, Nenot rupanya gak tahan lama-lama di sana. Bau belerang memang semakin kuat menguar dari kawasan kawah. Nenot mengaku pusing dan mual, sementara saya masih merasa baik-baik saja. Sepertinya banyak minum air putih (kemana-mana saya selalu bekal air putih) sedikit membantu saya bisa bertahan lebih lama di area belerang ini.

Akhirnya naiklah kami ke atas, janjian bertemu dengan Ayu dan cowoknya untuk pulang naik angkot carteran. Sampai di atas, mata saya tertumbuk pada papan bertuliskan peringatan yang bunyinya: “disarankan agar tidak lebih dari 15 menit berada di kawasan kawah.” Itu sebabnya, banyak juga beberapa orang yang pakai masker. Rupanya, lebih dari 15 menit efeknya memang bisa bikin dehidrasi, mual, pusing bahkan lebih parah bisa pingsan dan kejang-kejang! Waduhh.. pantesan Nenot keliyengan. Salah juga sih kita Not, saking girangnya langsung buru-buru turun ke bawah. hihihihihih..

Saya jadi ingat, Kawah Putih ini kan sering dipakai shooting dan foto pre-wedding yang memakan waktu lama. Gimana mereka ya? Oh, mungkin setiap 15 menit atau kalau sudah gak kuat bau belerang mereka naik ke atas dulu, trus ntar lanjut lagi. (nanya sendiri jawab sendiri).

nenot dan saya. minta fotoin sama mas-mas lewat :D (nisbroth)

nenot dan saya. minta fotoin sama mas-mas lewat πŸ˜€ (nisbroth)

Sebenarnya dari situ kami bermaksud ke Situ Patenggang. Sayangnya hujan deras gak memungkinkan sehingga kami memutuskan pulang saja. Kalau kata sepupu saya si Fasa yang sudah ke sana, pemandangan menuju ke Situ Patenggang-nya aja cakep banget. “Kiri kanan jurang-jurang, sawah-sawahnya berundak-undak keren kayak karpet deh Teh Nisa,” katanya. Sepupu saya yang kuliah di ITB ini emang pinter bikin orang penasaran dengan kalimat-kalimat penggambarannya yang deskriptif persuasif hahahahah..

Yah, begitulah sepotong cerita saya ke Bandung Desember lalu. Baru sempat ditulis sekarang karena saya pikir momennya pas, banyak teman yang long weekend ke Bandung di Minggu ini. Faktor lain sih karena saya males, sering nunda-nunda nulis heheheh..

Saya gak akan bosen ke Bandung. Kalau jalan ke sana lagi, saya akan menjelajah tempat lain. Oh, terutama Bosscha itu wajib yah (tetep). Saya sarankan kalau kalian mau ke Bandung yang bisa naik kereta, cobain naik kereta deh. Soalnya suasana yang bisa kita dapatkan di kereta beda banget sama kalau naik mobil atau bis.

Usahakan naik kereta di waktu terang dan jangan tidur. Ini supaya perjalanan kalian gak sia-sia. Sepanjang perjalanan, kita bakalan dikasih ‘bonus’ pemandangan yang cakep, indah luar biasa terpampang nyata, termasuk hamparan sawah ijo undak-undak yang kalau kata si Fasa kaya karpet ijo tebal digelar di Bumi. Selamat berlibur! πŸ˜‰

Iklan
 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2013 in Traveling

 

Tag: , , , , , , , ,

10 responses to “Gak akan Bosen ke Bandung

  1. RikaNova

    April 10, 2013 at 12:47 am

    Kalo denger kata bandung yg kuingat pertama kok macet, sumpek penuh mall, dan semrawut, ya. Haha… Untuk kawah putih, situ patengang, atau kawasan wisata lain kepalaku selalu mengasosiasikannya ciwidey atau jawa barat aja. Tapi emang di luar wilayah bandung kota dan daerah penyangga yg penuh hipster :D, asik banget sekitaran bandung itu.

    Suka

     
  2. nisbroth

    April 10, 2013 at 9:30 am

    @rikanova: hahahhah iya sih macet juga. makanya aq gak mau kl ke sana mainnya ke factory outlet, kulineran, ke mall2. wisata alam aja, brktnya pagi2, setidaknya ‘agak’ ngehindarin macet hihihihi

    Suka

     
  3. reshaayuanita l not just a story

    Januari 8, 2014 at 7:45 am

    Huaaaaa pengalaman yg seru, kebetulan jumat besok saya dan sahabat saya mau backpacker ke bandung selatan, tapi setelah baca tulisan ini jadi pengen mampir ke lembang…

    Suka

     
  4. nisbroth

    Januari 8, 2014 at 8:11 am

    @resha it must! tp lg musim hujan euy, bisa kurang all out jalan2nya. tp tetep keren kok, siap payung aja. oya, kl jalannya ngangkot mungkin skrg ongkosnya beda, bisa lebih mahal. ada yg mau sharing di sini boleh bgt loh. have a fun trip resha! πŸ˜€

    Suka

     
  5. Anty Wulandari

    Maret 26, 2014 at 1:54 am

    Kira2 maret ini masih musim hujan ga yah? sabtu ini rencananya mau kesana, tp worried bgt dgn cuaca kek gini :((

    Suka

     
  6. nisbroth

    Maret 26, 2014 at 7:54 am

    Anty: cuacanya gak bisa ditebak. kalau hujan yahh mau bagaimana lagi. coba dinikmati saja suasananya di kala hujan πŸ˜€

    Suka

     
  7. gungwahvita

    Mei 27, 2014 at 1:53 am

    Saya ada rencana ke Bandung bulan depan. Mau tanya kalo dari ciwidey mau ke lembang bagaimana caranya ya?

    Suka

     
  8. nisbroth

    Juni 24, 2014 at 12:17 pm

    @gungwahvita gak tauuu… maaf tidak bisa membantu. saya waktu itu soalnya gak dari lembang, tapi dari Dago. tanya orang yaa. selamat berlibur! πŸ˜‰

    Suka

     
  9. Yuke

    Agustus 31, 2014 at 7:28 am

    Berarti kalo dari terminal leuwipanjang ke tangkuban perahu lumayan jauh ya?
    Soalnya ada rencana minggu depan ke bandung naik bis primajasa hehe

    Suka

     
  10. nisbroth

    September 6, 2014 at 8:43 am

    @Yuke: lupa-lupa inget ya, tapi seingat saya jauhh… ke Tangkuban Perahu lebih dekat dari Stasiun Hall

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s