RSS

Mimpi…

14 Mei
(Ist/Sendaiben)

(Ist/Sendaiben)

Cerita ini mengenai UKM (Usaha Kecil Menengah) dan salah satu mimpi saya. Apa hubungannya? Yah simak aja deh, asal-asalan curhat ketak-ketik jadilah tulisan bernuansa mellow ini. Saya juga tidak tahu mau memberi judulnya apa yang pas! heheheh..

—-

Sebuah kiriman untuk saya tiba di kantor malam itu. Kebetulan saya memang belum pulang. Petugas jasa antar barang sebelumnya menelepon apakah memungkinkan untuk bisa mengantarkan barang di atas pukul 7 malam. Saya jawab, tak masalah. Saya sering di kantor hingga malam dan kantor saya 24 jam alias gak ada jam tutupnya.

Selesai serah terima, tak sabar saya membuka isinya. Dengan bantuan mas OB saya membuka kiriman itu. Perlu sekitar 5 menit melepas kardus dan plastik pembungkusnya yang cukup rapat. Dan… Jreng jreeng.. Biola hitam seperti milik Sharon ‘The Corss’ itu akhirnya terpampang di hadapan saya.

“Wuah, kamu bisa main biola? Ayo mainkan dong,” demikian kata mas OB dan teman yang melihat. Saya masih mencermati biola itu. Menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Tercium bau cat dan kayu karena memang masih baru. Sebentar lagi impian saya belajar bermain biola dan berngek-ngok-ngek-ngok seperti personel The Corrs segera menjadi kenyataan.

Alunan ‘Toss The Feathers’ milik band asal Irlandia itu pun seolah memenuhi ruang kepala saya yang sedang berimajinasi. Mata dan jemari saya menyusuri biola tersebut. Satu per satu bagian ditatap lekat-lekat.

Eits.. Ada yang janggal.. Saya cermati lagi body biola tersebut. Tak perlu waktu lama mengubah perasaan riang gembira ini menjadi bad mood. Oh no… Saya temukan retakan di dekat f-holes, lubang suara. Ahh.. Mengecewakan..

Kekecewaan itu ternyata masih berlanjut. Saya menemukan kejanggalan lain, chinrest atau penopang dagu biola tidak mulus. Dibuat sangat asal-asalan. Hufff… Saya masih menghibur diri. Segera saya mencari Pak Gonggong, teman kantor yang mahir bermain biola. Saya perlihatkan biola itu padanya.

Semula dia tidak begitu memperhatikan karena masih sibuk dengan pekerjaannya. Jadi saya tinggalkan dia dengan biola saya di kolong mejanya. “Whenever you’re free, tolong distem-in ya. Plus dicek-cek. Gw kecewa. Ada retakan,” kata saya.

Sepertinya setelah saya berlalu dengan muka bete menyebutkan ada retakan, dia jadi tertarik untuk mengecek. Tak lama kemudian, dia menghampiri saya. Karena sangat akrab dengan biola, tak heran komentarnya lebih banyak.

“Waduh, ini merusak kualitas suara Nis. Mending lo protes deh sama penjualnya,” ujarnya seraya menunjuk retakan dekat f-holes di biola tersebut. Dia mencermati lagi biola. Sudah bisa ditebak, dia dengan mudah menemukan ‘kesalahan’ lain.

“Senarnya bukan senar biola tapi senar gitar yang dipotong. Senar satu dan dua ini sama. Suaranya juga sama. Gimana mau distem,” kata Pak Gonggong. Dia berusaha berkata sepelan mungkin. Sepertinya takut menambah kekecewaan saya.

Kesalahan lainnya, senar dan papannya sangat rapat. Peg pemutar untuk menyetel senar tidak kesat. Jadi ketika diputar akan balik lagi. Dan, tidak ada fine tunersnya.

Semua perkataannya tepat. Sambil mendengarkan semua penjelasannya, saya juga membandingkannya dengan gambar biola ‘sungguhan’ di internet.

“Ini sih gak bisa dimainin Nis. Orang yang bikin ini sebenarnya ngerti biola gak ya? Mereka tuh seperti gak punya rasa bikin ini, gak pakai hati,” kata Pak Gonggong. Saya hanya menelan ludah. Kecewa sudah pasti.

(Ist/Etsy)

(Ist/Etsy)

Huff.. Saya jadi mengingat lagi beberapa hari ke belakang, sebelum biola bapuk itu sampai ke tangan saya. Keinginan belajar biola kembali menggebu setelah sekian lama padam karena tenggelam dengan kesibukan.

Saya belum sempat cerita ya, semenjak saya melihat tayangan berita akhir pekan mengenai komunitas biola Taman Suropati Chamber, saya jadi terbayang-bayang terus ingin belajar biola. Saya pun jadi rajin mencari tahu tentang komunitas yang sudah pentas dimana-mana ini. Komunikasi dengan pentolan komunitas pernah terjalin via telepon. Saya sangat antusias menanyakan syarat keanggotaan, bagaimana jika ingin bergabung dan belajar biola dari dasar.

Tapi keinginan itu memudar. Saya yang sempat semangat ingin membeli biola lupa begitu saja. Samar-samar saya masih sering tergugah ketika lagi-lagi melihat komunitas itu diberitakan di berbagai media. Tapi, tidak ada aksi. Saya ragu, pokoknya hanya sibuk-sibuk saja dengan pekerjaan.

Hingga pada akhirnya, pemicunya adalah salah satu teman saya Herni, pekan lalu baru membeli biola. Rupanya dia baru akan belajar biola dengan bergabung di sebuah komunitas.

Kebetulan, dia kebingungan mencari orang yang bisa menyetem biolanya tersebut. Saya yang sudah tahu ada master biola di kantor, langsung menggeretnya hehehe.. Kemana lagi kalau bukan ke tempat Pak Gonggong.

Di kantor tidak banyak yang tahu kalau dia pemain biola andal. Ketika saya menyeretnya bertemu Pak Gonggong untuk mengecek biolanya, sontak lah teman-teman kantor lain tertarik.

Nah, dari sini akhirnya kami juga tahu ada cukup banyak teman dengan minat sama. Mereka tertarik dengan biola. Beberapa di antaranya bahkan sudah pernah main biola, punya biola namun tidak diteruskan karena yah, lagi-lagi kesibukan kantor.

Dari sinilah semangat saya kembali muncul. Apalagi Herni yang baru belajar biola itu pun menyemangati. Dia bahkan tertarik bergabung di komunitas pemain biola Taman Suropati Chamber, setelah saya ceritakan betapa inginnya saya masuk di sana sejak dua tahun lalu.

Karena Herni pula, saya segera memutuskan membeli biola. Saya pikir jika tidak dipaksakan, akhirnya malah gak pernah jadi. Mumpung semangatnya sedang on fire lagi. Padahal saya juga belum tahu kapan saya bisa mulai belajar. Yang penting punya dulu biolanya, demikian pikir saya.

Singkatnya, saya browsing-browsing dan menemukan satu situs penjual biola Solomusicsport. Saat baru-baru tertarik mengunjungi biola, saya memang sempat mengunjungi situs ini. Tampaknya optimalisasi search engine benar-benar dimanfaatkan si empunya situs. Karena sekali mengetikkan kata pesan biola, situsnya terpampang di hasil pencarian.

Sebagai pemula, saya masih merasa sayang jika langsung membeli biola mahal. Saya membudgetkan 500 ribu. Dan di situs tersebut harganya memang cocok. Yang membuat saya lebih tertarik lagi, biola dibuat oleh para pengrajin dari Solo. Jadi biola itu tidak ada mereknya. Saya pikir, ketimbang membeli biola impor dari China, dengan harga yang sama, kenapa tidak membeli produk buatan Indonesia?

Saya sempat berkonsultasi dengan Pak Gonggong saat akan memesan biola dari situs ini. Dilihat dari gambaran produknya memang sangat meyakinkan. Biola yang dipajang sangat cantik dan berkualitas. Tapi, satu hal yang buat saya sempat ragu. “Buatan UKM ya? Bagus gak ya?,” tanya Pak Gonggong. Saya mengerti dia bertanya seperti itu, apalagi sebagai wartawan ekonomi dia sering berkutat dengan bisnis, jual beli, produk, termasuk UKM.

Apalagi ini beli online. Saya sebenarnya agak khawatir dengan aktivitas beli online. Tidak melihat barangnya secara langsung, saya khawatir produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan yang dikirimkan. Tapi hasil pencarian secermat-cermatnya, dengan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya saya putuskan untuk kali ini mencoba. Mencoba berbelanja online dan mencoba produk UKM.

“Hmmm… Gw gak tau. Dilihat dari webnya tentu aja dia memperlihatkan yang terbaik ya. Ya coba kita lihat nanti,” kata saya. Hmmmm… gambling.

“Tapi gak apa sih, hitung-hitung lo memberdayakan UKM,” kata Pak Gonggong berusaha menenangkan hati saya.

Yap, niat saya sih begitu juga. Image produk UKM belum bisa bersaing atau kualitasnya buruk tidak sepenuhnya benar. Saya tidak mau memukul rata seperti itu. Ada cukup banyak UKM yang punya produk bagus.

Sebenarnya ada juga pengrajin biola di Bogor dekat tempat tinggal saya. Sayang, karena menunda terus, saya tidak sempat datang ke sana. Mereka keburu gulung tikar. Tadinya saya berniat membeli biola, melihat pembuatannya secara langsung dan membuat tulisan tentang mereka.

Solomusicsport ini memang benar-benar memanfaatkan ranah online dengan baik sehingga calon konsumen dengan mudah bisa menjangkaunya. Jarang ada UKM yang sangat mempedulikan hal ini. Jadi, rasa was-was saya buang jauh-jauh. Mudah-mudahan tidak mengecewakan, harap saya waktu itu.

Sharon 'The Corrs' (Ist/Hotflick)

Sharon ‘The Corrs’ (Ist/Hotflick)

Tapi sekarang… ketika barang itu ada di hadapan, saya kecewa. Ide menggairahkan UKM jadi tidak menarik lagi di kepala saya. Yang lebih krusial bagi saya, mimpi itu tersempal.. mimpi bermain biola, mimpi menjadi seperti Sharon ‘The Corrs’, ohh mimpi ituuu… *garuk-garuk tembok* gak lebay ini kata-katanya, sumpah. Saya kecewa berat..

Pak Gonggong bergumam, “Jujur sih, kalo gw masih menganggap produk UKM masih susah bersaing. Kalah dia sama China. Lo liat kan biola China punya Herni. Ya dengan harga sama tapi masih jauh lumayan,” katanya.

Kalau kemarin saya masih bisa berkata “Daripada beli produk impor China, gak ada salahnya mulai belajar menghargai produk sendiri. Memberdayakan UKM”. Kali ini saya hanya diam. Kenyataannya si UKM yang saya harapkan bisa menjadi agen perwakilan ‘produk UKM berkualitas’ ini, gagal..

Sambil saya masih berdiskusi dengan Pak Gonggong, saya melayangkan komplain ke si penjual melalui WhatsApp messenger. Bagusnya, dia merespons. Dia mengatakan retakan itu merupakan kesalahan jasa pengiriman barang. Pada saat barang dikirimkan, menurutnya biola sama sekali tidak cacat. Hufff… jawaban ini sudah saya duga sebelumnya. Dia menyalahkan jasa antar barang.

“Bagaimana saya tahu kalau biola itu tidak retak saat dikirimkan. Mas kemarin waktu sebelum kirim ke saya cuma memperlihatkan foto barang sudah dikemas rapi tertutup,” tanya saya.

“Oke, coba kirim ulang ke saya. Nanti saya perbaiki gratis. Mbak hanya perlu mengirimnya balik, dengan ongkos 50 ribu. Nanti pada saat akan dikirimkan lagi, saya akan foto barangnya sebelum dipacking,” si penjual berusaha menawarkan solusi.

Saya masih pikir-pikir tawarannya. Artinya, saya harus menambah 50 ribu lagi untuk mengirimnya kembali ke sana. Dan dia bilang reparasi? Bagaimana mungkin diperbaiki? Biola itu cacat, harus diganti.

Tunggu, satu hal lagi. Kalau toh tidak ada retakan itu, yang diklaimnya sebagai kesalahan pihak jasa pengiriman barang, kualitasnya toh memang buruk. Seperti sudah saya sebutkan tadi, selain retakan ada banyak hal lain yang membuat biola itu ‘tidak layak’.

Dengan berat hati saya harus akui, jauh lebih ‘layak’ kualitas biola China dengan harga yang sama. Saya sampaikan juga poin-poin ‘kesalahan’ ini ke si penjual. “Apakah memang kualitasnya seperti itu? Sebenarnya yang membuat biola mengerti biola gak sih?,” saya mengulang perkataan Pak Gonggong.

Lalu saya tambahkan: “Sebenarnya saya punya ekspektasi tinggi sama produk mas setelah melihat di websitenya. Hal lain yang bikin saya tertarik adalah karena ini produk UKM, ketimbang saya beli produk impor China. Sayangnya, produk yang saya terima mengecewakan. Mudah-mudahan saya salah, mungkin staf mas kebetulan mengirim barang yang salah ke saya.”

Si penjual tak lagi menjawab pesan saya. Entah dia tertidur, malas menjawab atau memang tidak punya jawaban. Saya toh gak berharap banyak dengan membeli biola murah harga 500 ribu. Tapi, jika China saja bisa membuatnya yang mendekati ‘biola sungguhan’, kenapa si Solomusicsport ini gak bisa? Tunjukkan kualitas dong kalau mau bersaing. Apakah dia tidak memikirkan nasib usahanya ke depan ya? Dengan menjual barang seperti itu.

Huffffth.. Cerita ini masih akan berlanjut. Besok akan saya kirim balik biola itu ke si penjual. Saya ‘ikuti permainannya’, ingin melihat seperti apa UKM ini menangani komplain customer.

Saya gak berharap banyak. Sejak menerima biola bapuk itu di tangan, saya sudah menganggap uang saya hilang. Oh UKM… segeralah berbenah, produk China yang lebih murah akan semakin menenggelamkanmu..

Update

Setelah menantikan selama kurang lebih sepekan, sesuai janji si penjual akhirnya biola rusak itu ditukar dengan yang baru. Secara penampilan, tidak ada cacat pada produk itu. Biolanya mulus, cling, hard case-nya juga baru dan bagus. Namun secara fungsi, biola itu nggak bagus dimainkan, dengan berbagai kekurangannya itu. Saya sempat protes ke si penjual kalau senar yang digunakan bukan senar biola tapi senar gitar. Eh si penjualnya tak kalah keras membela diri “Kita gak pernah pakai senar gitar!,” ujarnya melalui whatsapp messenger.

Saya kasih saran untuk mengirim biola pakai kemasan kayu, dia tetap menyalahkan jasa pengiriman barang. Dia bilang biayanya lebih mahal lah dan berbagai alasan lainnya. Idddiiihhh… kok jadi dia yang lebih galak sih? Maksudnya kan, mengantisipasi hal seperti ini terjadi lagi. Namanya barang fragile gitu kan. Untungnya, pengiriman yang kedua kalinya dia memakai jasa pengiriman barang berbeda dan biolanya selamat.

Padahal tadinya kalau produknya bagus, saya mau ulas si solomusic sport ini. Seperti sudah saya bilang sebelumnya, sisi positifnya si penjual ini, dia sangat memanfaatkan ranah online dan responsif. Kan bisa jadi contoh, masih banyak UKM yang belum memaksimalkan online untuk berjualan. Yahh gitu lah pokoknya… apakah dengan kejadian ini keinginan bermain biola surut? Nggak sih.. tapi saya belum punya biolanya. Bismillah, nabung. Mending langsung beli biola ‘beneran’ deh πŸ™‚

Iklan
 
11 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 14, 2013 in FYI

 

Tag: , , ,

11 responses to “Mimpi…

  1. sudo

    Juni 9, 2013 at 4:13 pm

    Alhasil.. biolanya gimana skrg?? Saya juga mo beli biola dari Solo.. cuman kok rada ragu..

    Suka

     
  2. nisbroth

    Juni 9, 2013 at 4:43 pm

    @sudo: waiyaaa sy blm update tulisannya maapken πŸ˜€ alhasil sih si penjual kirim biola yg baru, mulus tdk cacat. tp secara kualitas dan fungsi, yg saya beli ini honestly gak bagus 😦 (utk harga 500 ribuan, dibandingkan dgn biola china ya) sbnrnya dia ada jg produk lain yg harganya 1 jutaan, kl dilihat penampakannya sih sptnya lebih bagus, lebih ‘niat’ bikinnya. smpet terpikir utk nambah uang dan beli yg 1 jutaan itu. tp krn beli online, plus pengalaman buruk dgn si penjual ini, saya urungkan niat. saran saya sih dtg langsung buat mastiin kualitas biolanya, apalagi kl mau beli yg handmade. kl.beli online, hmmm berisiko spt sy.. 😦

    Suka

     
  3. sudo

    Juni 10, 2013 at 11:55 am

    Turut bersedih ya Nis.. Makasih infonya.. Btw.. Temenku tadi nyaranin untuk beli Biola Skylark made in china saja.. paling harganya 700an.. Kalo mo suaranya bagus.. Beli Skylark China trus diupgrade senar n brigde yg agak bagusan.. kira2 sekitar 300 s/d 600an.. Coba sekali2 maen ke Starbucks Kampus UI Depok kalo sabtu siang.. Disitu ada yg latihan biola.. Namanya AVC Depok.. Nanti sharing2 aja ma mas2 disitu.. Aku pengen juga belajar biola disana.. Cuman masih nyari2 biola yg pas dikantong, tpi kualitas bagus.. πŸ˜€ Membahas UKM.. Itulah kelemahan UKM kita.. mereka terlalu buru-buru ingin menghasilkan duit.. Tapi kualitas n pelayanan rada di nomor duakan.. Nah.. dampaknya.. produk UKM masih kalah jauh dari produk china.. Memang.. UKM kita masih harus banyak belajar ke negeri china.. πŸ˜€

    Suka

     
  4. nisbroth

    Juni 10, 2013 at 12:11 pm

    @sudo: huhuhu 😦 yasudlah… iyaa tmnqu jg ada yg menyarankan Skylark. Tmnqu si pak gongong itu jg menawarkan biola handmade 1 jutaan dr kenalan temannya. Yg jelas kl mau beli hrs liat lgsg barangnya. Apalagi buat alat musik… tp ya aq belum beli lagi, duitnya habis khikhikhihi.. oya, aq jg denger ada komunitas biola setiap sabtu di UI Depok, maybe someday kita ketemu di satu komunitas πŸ˜€ thanks anyway udah mampir and for sharing. salam kenal πŸ˜‰

    Suka

     
  5. sudo

    Juni 10, 2013 at 12:52 pm

    Hehehe… Chayoooo… Yowis.. Gud luck yaahh.. semoga dapet biola yg keren.. Ntar sama2 belajar di UI Depok.. Thanks juga ya buat infonya.. See you..

    Suka

     
  6. Rachel

    Juli 25, 2014 at 2:54 am

    sy ga ngerti, maksudnya bandingin biola UKM harga 500rb denga biola cina harga 700rb? karena setahu saya ga ada biola cina (baru) dibawah 800rb.
    Satu-satunya cara membandingkan dua buah biola adalah dengan menyandingkannya dan dicoba, biola cina suaranya lebih bagus karena kayunya tipis tp kadang ada beberapa bagian yg hanya menggunakan serbuk kayu yg dipadatkan, sedangkan produsen biola UKM dihadapkan 2 masalah:
    1. Memakai kayu utuh tp belum bisa / belum mempunyai alat untuk meng “ekstra tipiskan” kayu, rata2 msh handmade, kalaupun ada alatnya belum secanggih cina.
    2. Karena point 1, maka UKM harus menyiapkan bahan kayu “lebih” daripada produsen biola cina,sehingga biaya produksinya menjadi lebih mahal.

    Tapi jika anda membeli kedua biola itu dan mewariskan ke anak cucu sy percaya 50 tahun kemudian biola UKM yg masih utuh karena kayunya memang lebih tebal dan tidak ada bagian yg terbuat dari serbuk kayu yang dipadatkan.

    Obat kecewa buat anda yg terlanjur beli biola lokal / UKM:
    1. Ganti senar (1set 50rb),penyangga dagu / chinrest (35rb), penggesek (150rb) dan bridge (25rb)dengan yg lebih bagus
    2.Sering dijemur pagi hari antara jam 7-10 pagi
    3. Kalo mau ekstrim lagi kerok body biola pake amplas, tp nanti catnya tipis atau malah hilang.
    4. Sering2lah dimainkan, agar warna suara dari kayunya bisa terbentuk, karena kalo point 1 sudah dilakukan biolanya udah enak dimainkan kok.

    Maka 50 tahun kedepan anda mempunyai harta karun sebuah biola vintage yg kayunya matang&suara bagus,org ga akan ngira kalo buatan UKM, mereka akan mengira handmade luar negri (handmade lebih mahal lho dprd buatan pabrik), sedangkan biola cina 50 tahun kedepan? sy kira kok udah ganti body.

    Sy bukan pengrajin biola UKM, hanya pemain yg udh puluhan kali gonta-ganti biola & otak atik biola. Semoga bermanfaat.

    Suka

     
  7. Ugie Sudarman

    November 8, 2015 at 11:36 am

    tertarik bacaan mba Nis diatas, sama komen dari Rachel.

    Saya masih tertarik bikin Biola di luthier lokal. ga tau apa mereka harusnya disebut UKM yah?
    ga ada alasan spesifik sih. seperti gitar saya yg juga sedang on production. dikerjain oleh luthier Oding Custom di kota Malang – Jawa Timur.

    saya suka seni. karena di seni lah egois saya dinyatakan positif. Di mata saya, di seni kalo ga egois berarti saya copycat saja. Sejauh ini yang saya tekuni media Foto. Di Jaman yang lebih mudah copas dr sosmed memang, untuk foto yang ribuan kali lebih bagus dari hasil jepretan saya. Tapi Ego saya terpenuhi dengan kamera mumer saya. Bukan karya mas Rarindra Prakasa, om Harlim, mba Sasha tunjungsari atau kang Rahmat Koesnadi yg saya “re-signature”, dan itulah saya… hehehe…

    seperti juga di biola yg saya mau ini. Saya pengen bikin di tempat yg mau menerima keinginan ego saya. warna suara, material (tentunya menyesuaikan juga warna suara yg saya mau).
    sayangnya saya belum dapet referensi luthier yang bisa saya ajak diskusi.

    kalau mba masih punya keinginan untuk bikin biola lokal, atau bahkan sudah dapet artis luthier-nya. Di update yah tulisannya. Apakah nantinya akan lebih murah dari ACM (All china Manufacturer) atau malah lebih mahal? siapa yang tau? wong saya juga belum dapet artinya. hehehe…

    Suka

     
  8. nisbroth

    November 23, 2015 at 7:53 am

    Ugie: keinginannya meluap begitu saja. Lupa dan tenggelam, baru ingat lagi pernah pengen main biola karena komentar mas Ugie di blog saya πŸ˜€

    Suka

     
  9. bayu purwantara

    Juli 20, 2016 at 11:49 am

    Hmm..sayang ya… sekarang gimana..dah beberapa tahun dri postingan… sudah dapatkah biola pengganti…, heheh… sama nni dri dlu pngn belajar biola belum kesampaian..

    Kan d bogor ada ya pembuat biola. Madani corp.

    Suka

     
  10. bayu purwantara

    Juli 20, 2016 at 11:51 am

    Sayang ya… sekarang gmna dah dapet biola penggantinya…
    Pa jangan2 keunginannya masi terkubur..hehhe. Di bogor kan ada pengrajin biola madani corp.

    Suka

     
  11. nisbroth

    Juli 21, 2016 at 12:36 pm

    @bayu: sama sekali belum pernah main biola jadinya. jadi lupa dan gak terlalu pengen kaya dulu aja, sayang sih. makasih ya sudah mampir

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s