RSS

Malam Pertama…

26 Agu
(ilustrasi/weheartit)

(ilustrasi/weheartit)

Saya gak berani menengok ke belakang ketika kursi roda saya didorong masuk oleh suster ke ruang operasi. Takut menangis dan malah membuat mama papa saya khawatir. Saya benar-benar ketakutan setengah mati malam itu.

Dalam hati saya gak berhenti berdoa, supaya ditenangkan hati dan pikiran, dilancarkan proses operasi usus buntu. Kata dokter, pembedahan usus buntu adalah operasi kecil. Ya ampun dok, kecil atau besar tetep nakutin kali!

Sama jarum suntik aja saya takut. Apalagi membayangkan dibius, anggota badan yang sakit dibelek, lalu diuwek-uwek dokter dan para perawatnya, ada gunting, pisau, dan alat operasi lainnya, darah, dan tentu saja, rasa sakit setelahnya.

Setelah dibantu berganti pakaian operasi, suster meninggalkan saya seorang diri. “Bismillah ya, semoga lancar,” kata suster. Lalu saya dibiarkan menunggu sementara para perawat menyiapkan alat-alat operasi.

Sambil menunggu, pikiran saya menerawang. Malam pertama… Ini bukan malam pertamanya penganten baru. Tapi ini adalah sejarah dalam hidup saya yang semuanya serba pertama.

Pertama kali sakit yang sampai harus menginap di rumah sakit. Pertama kali saya diinfus. Pertama kali saya ketakutan setengah mati menginjakkan kaki di unit gawat darurat. Dan tentu saja, ini malam pertama kalinya saya mengalami operasi. Pokonya malam ini semuanya serba pertama buat saya. Yeahh… there’s always a first time for everything right?

Saya kembali mengingat-ingat, sebelum saya akhirnya berada di sini, menunggu perut saya dibedah. Malam sebelumnya saya mengalami sakit perut hebat. Begitu sakitnya, tengah malam saya menangis seperti bayi di pelukan mama saya. Menahan sakit, tangan sampai saya kepalkan dan memukul-mukul bantal. Kaki pun saya hentak-hentakkan. Untung masih waras, gak sampe nonjokin tembok.

Semalaman saya gak tidur karena kram perut yang dahsyat itu. “Ya Allah… ini ada malaikat Izrail mau cabut nyawa saya apa? Sakit banget ya Allah…,” pikir saya di tengah-tengah tangis (kaya tau aja rasanya dicabut nyawa kaya apa)

Saya pengennya cepat dibawa ke dokter. Tapi dokter terdekat dengan rumah tidak praktik pada malam itu. Gusti… rasanya lama sekali menunggu pagi. Syukurlah, rasa sakit berangsur-angsur mereda. Mama mengusap-usap punggung saya dengan minyak kayu putih sambil tak henti membisikkan doa di telinga saya. Duhh mama…

Kena usus buntu

Paginya saya dibawa ke dokter terdekat dengan rumah. Dokter Andri Wanananda adalah dokter umum langganan keluarga kami. Tapi Alhamdulillah saya jarang sakit, saya masih sangat ingat, terakhir kali berkunjung ke tempat praktiknya lima tahun lalu ketika saya masih kuliah. Keluhannya, maag kumat.

Di kunjungan kali ini, tadinya saya pikir saya hanya perlu istirahat beberapa hari dan diberi obat seperti yang sudah-sudah. Gak nyangka, hari itu menjadi hari yang berasa panjang banget buat saya. Dokter Andri mendiagnosa saya terkena usus buntu.

Cara mengetahuinya, dengan sedikit tes fisik sederhana. Dokter menekan bagian kanan bawah perut saya secara cepat, lalu menariknya beberapa kali. Saya terkesiap merasa nyeri.

“Kalau maag, bagian kanan bawah ditekan gak akan bikin kamu kesakitan begini. Saya khawatir ini mah kamu usus buntu. Untuk lebih pastinya, harus dicek ke dokter spesialis bedah ya,” kata dokter.

letak nyeri usus buntu (ususbuntu.com)

letak nyeri usus buntu (ususbuntu.com)

Spesialis bedah? Ketakutan mulai merayapi pikiran saya. Sementara itu, gak pake ba bi bu lagi, dokter ramah keturunan tionghoa itu merujuk saya ke RS terdekat dari rumah, Bogor Medical Centre.

“Tolong cepat ketemu dengan Dr Djoko Djudojoko ya, jangan ditunda lagi,” kata dokter Andri.

Saya dan mama menuruti sarannya. Dalam perjalanan bertemu dokter Djoko, saya masih berharap tidak terkena usus buntu. Tapi… harapan itu pupus karena dokter Djoko pun berpendapat sama.

Diagnosa usus buntu semakin pasti setelah saya menjalani pemeriksaan laboratorium. Saya diambil sampel darah di lengan, ujung jari dan telinga. Hadehhhh… lihat jarum suntik dan darah diambil begitu lemas rasanya.

Dari hasil laboratorium, indikator usus buntu yang paling mudah saya pahami adalah kadar leukosit atau sel darah putih yang sudah melebihi normal. Kadar Leukosit normal adalah 8.000 – 10.000 sementara hasil tes darah saya menunjukkan kadar leukosit 17.000. Intinya, sel darah putih saya naik karena ada infeksi di usus buntu.

“Ini sudah gak perlu rontgen atau pemeriksaan apa-apa lagi. Kamu usus buntu akut,” kata dokter Djoko kalem. Halaaaahhhh… Sementara saya masih terbengong-bengong, dokter menjelaskan serba-serbi usus buntu dengan coret-coretan yang dia gambar sendiri di sehelai kertas.

*penjelasan tentang usus buntu ada di tulisan saya sebelumnya.

“Kamu harus operasi sore ini. Kondisi kamu sekarang memungkinkan usus buntu kamu pecah sewaktu-waktu dan bisa lebih berbahaya.” Mendengar dokter berkata seperti itu, saya serasa disambar gledek. Bukan gledek deh, bapaknya gledek. Kaget banget!

Rawat Inap

Akhirnya, setelah mikir cepat, mengumpulkan keberanian, berdiskusi dengan mama papa, saya siap dioperasi hari itu juga. Sempat kesulitan mendapatkan kamar, sementara saya harus segera dirawat inap.

Masalahnya, kamar dengan kelas yang sesuai dengan plafon asuransi saya penuh semua. Tadinya saya berniat memesan kamar dengan kelas melebihi plafon asuransi. Pikir saya, tidak apa menambah sedikit kelebihan biayanya. Saya udah males mikir apa-apa lagi. Cuma mau konsentrasi ke operasi.

Tapi susternya memberi tahu, biaya lainnya akan ikut naik sesuai harga kamar. Ohhhh begitu rupanya, baru tahu saya. Meski kesakitan, saya masih waras untuk sedikit berhitung-hitung hehehe… dan bener kata suster, angkanya bikin mata kelojotan. Bisa nombok banyak, gaji saya berapa bulan itu.

Akhirnya, saya dirujuk ke RS Karya Bhakti. Dokter Djoko praktik di sana pada malam harinnya dan Alhamdulillah saya dapat kamar sesuai plafon asuransi. Syukurnya lagi, jam operasi yang semula kalau saya rawat inap di Bogor Medical Centre harusnya sore, karena pindah rumah sakit jadinya mundur ke malam. Jadi saya bisa lebih menyiapkan fisik dan mental.

baca buku, main game, Instagram-an, kegiatan saya selama terbaring di RS (nisbroth)

baca buku, main game, Instagram-an, kegiatan saya selama terbaring di RS (nisbroth)

Mimpi apa saya. Sebelumnya masih ketawa-ketawa, sekarang di rumah sakit siap-siap operasi. Sakit emang gak bisa diduga datangnya. Tiba-tiba saya jadi teringat asuransi saya.

Merasa bersyukur telah diberi hidayah untuk mengatur finansial dengan baik πŸ˜€ Selain asuransi dari kantor, saya juga menabung asuransi sendiri sebagai cadangan.

Di saat seperti ini, baru terasa sekali manfaatnya. Dengan kartu jaminan, saya tinggal masuk rumah sakit, berkonsentrasi pada proses pengobatan. Soal biaya, asuransi sepenuhnya yang meng-cover.

Memang, kakak tertua saya jadi direpotkan karena mondar mandir dan tanda tangan ini itu untuk konfirmasi ke pihak asuransi. Tapi setidaknya, saya meringankan beban diri sendiri dan keluarga soal biaya.

Untuk rawat inap dan operasi ini, saya ditanggung asuransi dari kantor. Namun karena saya juga punya asuransi sendiri, saya bisa mengklaim asuransi yang satu lagi ini. Jadi dapat penggantian juga, Alhamdulillah… Yang masih pikir-pikir nabung asuransi, coba deh dipertimbangkan. Heitsss… ini bukan blog berbayar yah hahahhah

Persiapan

Dan di sini saya berada sekarang. Menunggu dokter Djoko dan timnya mengudek-udek perut saya. Operasi yang saya jalani adalah operasi konvensional, bukan operasi menggunakan sinar laser atau laparoskopi yang katanya gak pake berdarah-darah.

Katanya kalau operasi sinar laser sembuhnya lebih cepat dan hanya membuat tiga lubang kecil di perut, bukan sayatan. Tapi toh dokter juga gak menawarkan opsi lain, pastinya dia punya pertimbangan sendiri sesuai kondisi pasien.

Lagipula operasi dengan sinar pastinya biayanya akan lebih mahal lagi. Mungkin dokter Djoko juga peduli akan masa depan finansial saya, halah hahahah. Ya pokoknya saya pasrah saja. Saya percayakan pada ahlinya.

Oya saya akan merinci detail persiapan operasi usus buntu. Bukannya nyumpahin kalian sakit usus buntu ya, tapi siapa tahu berguna bagi pembaca yang akan menjalani operasi pertama kali. Setidaknya, membantu menenangkan dan membuang jauh kesan ‘horor’ operasi (jieehh kaya saya berani aja..)

Pertama, sebelum masuk ruang rawat inap, saya ditaruh di unit gawat darurat. Tangan kiri saya dicuuuussss untuk infus. Ini sebagai pengganti makan. Karena 6 jam sebelum operasi, pasien diharuskan berpuasa. Tahan-tahan ya kalau laper. Kalau saya sih kebetulan emang jadi gak laper karena nervous mikirin operasi.

Kedua, saya di cek berat badan dan juga tinggi badannya. Kata perawat cowok yang menangani saya di unit gawat darurat, pengecekan ini untuk menghitung kebutuhan cairan tubuh saya.

Suhu tubuh juga dicek dengan menaruh alat semacam senter kecil yang mengeluarkan cahaya biru ke jidat saya. Sempat tengsin waktu si perawat mau cek suhu tubuh, saya mangap lebar dengan pedenya.

“Bukan, ini untuk di jidat,” kata mas perawatnya ketawa. Haisshhh malu saya. Oya, entah karena kejadian memalukan itu atau karena keramahan dan raut wajahnya yang menyejukkan, sampe sekarang saya terkenang terus muka perawat itu ihihihikk…

Lanjut. Ketiga, saya dipindahkan ke ruang rawat inap. Terus didatangi dokter anestesi dan dua perawat. Diperiksa dengan stetoskop, lalu dokter mirip Ustadz Abu Sangkan yang bawain acara Indahnya Sholat di Metro TV itu melakukan sedikit wawancara.

“Jantung mbak bagus. Punya asma atau sesak nafas? Ada alergi obat atau makanan? Pernah operasi sebelumnya?,” demikian yang sedikit saya ingat pertanyaannya. Ini untuk mengecek kesiapan fisik untuk operasi.

Keempat, rambut di bagian bawah dekat kemaluan dicukur habis. Kenapa harus dicukur? Kata suster, ini untuk mengurangi resiko infeksi karena di rambut kemaluan banyak terdapat bakteri dan kuman.

Kelima, ini mah tambahan dari saya. Puas-puasin tidur dengan beraneka gaya hehehe. Karena setelah operasi, kita gak boleh banyak gerak. Lagipula, ini kan juga untuk menyiapkan tubuh agar cukup istirahat.

Now’s the time!

Saatnya telah tiba. Saya baru nyadar, di ruangan operasi sengaja disetel radio cukup keras. Saat saya menunggu operasi, terdengar lagu Cakra Khan, Harus Terpisah.

“Ku berlari kau terdiam, ku menangis kau tersenyum..” Ya ampun lagunya kenapa yang beginian sih. Sendu amat… Untungnya gak lama langsung berganti lagu Raisa Could it be Love. Ye ye yeee… kesukaan saya Raisa.

Belakangan saya baru tahu, di ruangan operasi memang sengaja diperdengarkan lagu agar pasien tidak tegang. Tapi yaaahhh… di ruang operasi ini karena lagunya dari radio, play listnya ya random gitu.

Situasi ini mengurangi konsentrasi saya berdoa juga jadinya. Padahal saya dipesenin mama untuk gak berhenti baca shalawat dan berdzikir. Lah ini, campur aduk jadinya kadang berdoa, kadang ikutan nyanyi dalam hati.

Selama saya masuk ruangan operasi sampai keluar, saya ingat lagunya campuran pop anak-anak jaman sekarang, pop sunda, pop jaman dulu, ada dangdutnya juga bentaran. Suka-suka yang jagain radio aja kayanya.

(ilustrasi/shuttershock)

(ilustrasi/shuttershock)

Oke, back to topic. Inilah saat yang menegangkan itu. Saya masuk kamar operasi. Ada lampu-lampu besar, semuanya masih keadaan off. Dibantu perawat, saya dibaringkan di meja operasi.

Badan terlentang. Lengan kiri dan kanan direntangkan sehingga badan membentuk +. Oya, masing-masing lengan diikat ke papan. Bukan diikat pakai tali, tapi di papan itu udah ada semacam tali straples. Gak kencang sih ikatannya, tapi agak bingung kenapa diikat ya? Mungkin takut panik terus nonjok dokter sama perawat-perawatnya khikhikhikhi.

Di tangan kiri sudah ada infusnya sejak dari ruang gawat darurat. Sementara di lengan kanan, dipasang alat tekanan darah otomatis. Saya sempat kaget sendiri. Tiap beberapa menit, alatnya mengencang di lengan, mengukur tekanan darah.

“Jangan takut mbak, itu otomatis ngukur tekanan darahnya mbak,” kata perawat ibu-ibu berkerudung. Lagi-lagi norak deh saya.

Oh ya, sebelum tangan diikat, perawat lain menyuntikkan sesuatu untuk membuat bagian bawah tubuh saya kebas. Lagi-lagi disuntik! Namanya bius spinal, yakni bius yang disuntikkan di tulang belakang. Saat suntikan mencuuussss tulang belakang saya, saya memegang kuat lengan si ibu perawat karena ketakutan.

“Gak sakit kaan? Kaya digigit semut,” kata si ibu perawat. Iya bu, digigit semut. Semutnya segede kambing kali.

“Saya kira bakal dibius total. Saya ngeri ngeliat perut saya diaduk-aduk,” kata saya ke si bu perawat. Ehhh dia ngomong apa coba. “Gak apa kok, kalau mau lihat juga. Nanti kelihatan di kaca lampu.” Haisssshhhh justru gak mau liat!

Setelah itu, saya disuruh tiduran lagi. Lalu saya juga mulai dipasangkan selang oksigen untuk bernafas. Perlahan, saya mulai merasakan kesemutan di bagian kaki hingga pinggang.

Perawat cowok yang rada tengil nanya, “udah ba’al belum kakinya?.” For your information, ba’al is Sundanese language that means numb atau kebas atau mati rasa. “Kayanya udah deh,” jawab saya.

“Coba gerakin kakinya. Hei gerakin kakinya neng,” ledek dia. Yeeee… saya meletin lidah ke perawat itu. Perawat yang lain ketawa-ketawa. Saya terhibur. Sepertinya ini cara mereka membuat pasien rileks menjalani operasi. Diajak ngobrol terus.

Dan saya baru nyadar, kaki saya gak bisa digerakkan, padahal saya mau menggerakkannya. Sesaat terpikir, Gusti… mungkin seperti ini orang yang (maaf) lumpuh.

Saya masih ingat, selain si ibu perawat ada empat perawat lain yang membantu dokter Djoko mengoperasi saya. Total ada enam orang menangani saya, dokter Djoko bersama dua perawat perempuan dan tiga perawat laki-laki. Dikira kalau operasi kecil, orangnya gak sebanyak ini.

Nah, tibalah saatnya. Dari tadi saya ngomong saatnya saatnya melulu ya, gak kelar-kelar hahahaha.. Dokter Djoko sudah datang. Sama seperti para perawat, dokter pakai baju hijau-hijau, mulutnya ditutup masker, pakai sarung tangan dan pakai tutup kepala.

Lampu operasi dinyalakan. Seorang perawat menyeting semacam tirai mini diatas dada saya, sehingga saya gak bisa lihat apa yang mereka lakukan dengan perut saya. ‘Terhidang’ lah tubuh saya di hadapan mereka.

Pada saat operasi saya merasa tubuh saya gemetaran. Saya coba menarik nafas, menenangkan diri. Saya rasa gemetaran ini adalah akumulasi nervous dan kedinginan akibat AC yang memang kencang di ruangan operasi.

“Saya kedinginan dokter,” kata saya. Si ibu perawat lalu menyuruh perawat lain menutupi bagian atas tubuh saya dengan selimut tebal. Tapi ya saya tetap merasa kedinginan. Lah, bagian bawah saya kan dibiarkan terbuka. Belakangan saya baru tahu, ruang operasi memang harus sangat dingin agar pasien tidak berkeringat. Dengan demikian, kelenjar keringat ‘istirahat’ dan tidak mengganggu proses medis saat operasi.

Takut terjadi hal-hal tidak diinginkan, saya berusaha menenangkan diri mengatur nafas. Dalam hati tidak henti berdoa semoga Allah memudahkan operasi ini.

Bayangkan, selama operasi yang berlangsung satu jam, saya gemetaran menahan dingin dan melawan ketakutan. Rasanya lamaaaaa banget. Saya mendengar bunyi gunting dan entah alat operasi apalagi yang berdenting.

Sayup-sayup antara sadar dan tidak saya mendengar komentar dokter dan perawat. Issshhh… berharap saya pingsan saja ketimbang tahu kalau mereka sedang mengaduk-aduk perut saya.

Saya memilih memejamkan mata. Kalau saya lihat ke atas, saya bisa melihat proses operasi dari pantulan kaca di lampu besar yang menerangi tubuh saya. Menengok ke kiri, tembok keramik juga memantulkan aktivitas yang sama. Demikian juga di sebelah kanan saya, pintu kaca dengan jelas memperlihatkan semuanya.

“Wah, tidur dia. Santai aja ya neng,” tiba-tiba si perawat tengil ngomong. “Siapa yang tidur, saya ngeri gak mau liat,” kata saya.

“Ngeri apa? Gak apa-apa kok, cuma dicolek-colek sedikit supaya sembuh nantinya.” Sial, lagi-lagi nih perawat reseh banget.

Trus saya juga dengar ada suara lain bilang, “Ini usus buntunya, besar juga ya.” Hadehhhh… nakutin banget.

“Dokter sama mas-mas ini pada operasi aja deh jangan pake lama, ga usah ngomong,” kata saya akhirnya jutek. Ngomongnya kedengeran nahan mau nangis. Malu-maluin banget.

Ehh mereka malah ketawa. Si ibu perawat yang keibuan (namanya juga ibu-ibu) menenangkan saya. “Sabar ya mbak… Insya Allah gak lama lagi.

Dan selesailah prosesi sayat menyayat itu. Untung hati aku gak tersayat… eeeeaaaaa…

Selanjutnya saya dipindah ke ruang pemulihan, Alhamdulillah… hangat rasanya. Setelah diistirahatkan selama kurang lebih satu jam, barulah saya dipindah ke ruang rawat inap.

Begitu keluar ruang operasi, ada mama, papa, kakak-kakak dan ua saya menunggu di luar. Saya sempat melihat jam dinding, pukul 1 dini hari. Ya Allah… mereka semua nungguin saya.

Satu jam pasca operasi, setelah berada di ruang rawat inap saya baru merasakan sakitnya. Pengaruh bius sudah hilang dan kerasa sensasi senut-senut yang menggelora di jahitannya. Saya nangis sejadi-jadinya, persis seperti malam waktu usus buntu saya kambuh.

“Astagfirulohalaziim… Ya Allah… Gusti… Astagfiruloh…,” kata saya berulang-ulang sambil nangis. Mama papa yang menunggui saya di rumah sakit jadi ikutan ga bisa tidur.

“Istigfar sayang, sabar neng… sabar yaa,” kata mama papa saya. Mereka gak bisa berbuat apa-apa. Cuma berusaha menenangkan saya, mengusap-usap kepala saya :’)

Berharganya embusan kentut

Paginya, rasa sakit hilang karena suster memberikan pain killer melalui infusan. Saya belum boleh makan dan minum sebelum saya kentut. Ya, kentut adalah indikator bahwa usus kita telah ‘bangun’ setelah pembiusan dan siap bekerja kembali.

Total waktu puasa saya dari sebelum operasi hingga pasca operasi dan kentut kurang lebih 36 jam atau 1 1/2 hari. Betapa laparnya saya. Maka ketika kentut itu datang, untuk pertama kalinya saya mengucap Alhamdulillah atas kentut yang dianugerahkan Allah kepada umatnya.

Tapi itu pun gak langsung boleh makan. Saya baru diperbolehkan minum satu sendok air putih, satu jam sekali. Kalau langsung minum banyak, usus bisa kaget dan bikin muntah-muntah.

Selama satu hari pasca operasi, pasien belum diperbolehkan turun dari tempat tidur. Untuk buang air pakai pispot. Setiap jam, perawat memeriksa infus yang dipasang, mengecek suhu tubuh dan juga tekanan darah.

Hari ketiga, dokter Djoko bilang saya sudah boleh pulang ke rumah. Yaaiiiyyy! Kesehatan saya bagus, tidak ada keluhan berarti kecuali sakit di luka sayatan operasi. Selanjutnya, perawatan dilakukan di rumah.

Pasca operasi

Hari ini, saat saya menulis dan memposting tulisan ini, tepat hari ketujuh pasca operasi. Saya masih di rumah, belum beraktivitas seperti biasa. Sepekan kemarin, saya istirahat total.

Atas kebaikan dan pengertian bos dan rekan satu tim, saya diperbolehkan bekerja dari rumah. Untungnya kantor saya memungkinkan remote working, karyawan bisa bekerja tanpa harus hadir di kantor.

Ngomong-ngomong, perut masih terasa ngilu. Jahitan sepanjang kurang lebih 10 cm ini belum dibuka. Saya pun masih kontrol ke dokter. Sekarang, saya sudah bisa duduk dan berjalan pelan-pelan, tapi harus hati-hati.

Yang menyiksa adalah kalau batuk atau bersin, sakitnya luar biasa. Saya juga harus menahan diri untuk tertawa demi menjaga bekas operasi ini baik-baik saja. Duh, ‘baru segini’ aja saya cengeng. Gimana kalau nanti melahirkan?

"kenang-kenangan penyebab gak jadi ke Berlin," kata kakak saya :D (nisbroth)

“kenang-kenangan penyebab gak jadi ke Berlin,” kata kakak saya πŸ˜€ (nisbroth)

Oya, si usus buntu yang telah menemani saya selama 27 tahun 10 bulan 10 hari itu sempat diabadikan oleh kakak laki-laki saya. Dia memfotonya pakai ponsel lalu dikirimkan via WhatsApp. Saya baru membaca pesan WhatsAppnya satu hari setelah operasi.

“Buat kenang-kenangan, penyebab lo gak jadi ke Berlin,” tulis kakak saya.

Hahahahah… sial.. dia mengingatkan saya soal itu. Memang, pada saat saya sakit, seharusnya saya mengurus visa keberangkatan ke Jerman awal September.

Sejak masuk rumah sakit saya gak yakin bisa memenuhi tugas. Maka sebelum operasi, langsung saya selesaikan semua urusan kantor, termasuk berdiskusi dengan bos agar segera mencari pengganti penugasan saya ke Berlin.

Yahh… belom rejeki saya menginjak Eropa. Sekarang mah saya cuma pengen cepet sembuh. Bisa segera beraktivitas lagi, berlari-lari dan menari-nari di atas pelangi πŸ˜€

Saya lagi disayang Allah banget nih, disuruh istirahat. Dari sakit ini, saya diingatkan Allah agar selalu bersyukur. Ya Allah, gak bisa ngomong apa-apa lagi deh kalau ingat bagaimana mama papa dan kakak-kakak saya kerepotan bergantian menjaga saya.

Saya terharu mengingat ua, om, tante dan sepupu-sepupu saya langsung datang menjenguk begitu tahu saya masuk rumah sakit. Begitu juga dengan teman-teman kantor, mereka menelepon, mengirim pesan, mendoakan kesembuhan saya.

Belum lagi tetangga yang jarang bertemu dan beberapa ibu-ibu pengajian yang sudah sepuh, menyempatkan menjenguk. Ah, betapa Maha Baik Allah. Dia mengingatkan saya makna silaturahim dengan cara yang indah.

Mudah-mudahan Allah memberikan kesehatan untuk kita semua ya. Semoga teman-teman yang membaca tulisan ini, yang sedang sakit atau saudara dan kerabatnya sedang tidak sehat, lekas diberi kesembuhan. Dan semoga kita juga diberi umur panjang dan berkah… Amin allahumma amin…

Iklan
 
17 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 26, 2013 in FYI

 

Tag: , , ,

17 responses to “Malam Pertama…

  1. RikaNova

    Agustus 29, 2013 at 3:21 am

    aaahhhh kenapa ga tetep dicoba apply aja nis? kan masih september berangkatnya. katanya schengen lebih mudah, orang kantorku biasanya kalo apply schengen cuma 3 hari gitu uda keluar.

    Suka

     
  2. nisbroth

    Agustus 29, 2013 at 4:31 am

    paling lambat aq wawancara visa tgl 26 agustus, karena jdwal berangkat tgl 2 september. tiket pesawat udh ready. tp aqunya belom bs jalan normal, dan emang udah aq perkirakan begitu masuk rawat inap..

    pertimbangannya, kalau dari minggu kmrn gak langsung cari pengganti, malah bisa2 dari kantorqu gak ada yg berangkat ke sana. sayang, bagus acaranya πŸ™‚

    yasudahlah belom diizinkan menginjak eropa rika… heheheh. yg penting sehat dulu πŸ˜€

    Suka

     
  3. RikaNova

    September 4, 2013 at 8:54 am

    oh begitu. aku kemarin ga pakai wawancara sih. masukin jumat, terus rabunya keluar. baiklah, mungkin beda kali ya. tp gpp nis, kan kamu mah uda jalan ke mana mana pun. *iri*

    Suka

     
  4. febby dewi

    September 23, 2013 at 12:59 am

    alhamdulillah, ternyata sakit itu ada hikmahnya ya nis. semoga kita semua sehat walafiat ya. btw cerpennya bagus πŸ˜€ maaf ya nis ijin mampir ke blognya.. reaksi gw pas baca? tulisan lo bikin gw tersenyum di senin pagi nih hihihii… menghibur bagian2 yg lucunya.

    Suka

     
  5. nisbroth

    September 23, 2013 at 6:06 am

    @febby khikhikhikhikhi… trimakasih sudah berkunjung febby! begitulah, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian tssaahhh… ga perlu ijin mampir, malah girang kalik dikunjungin blognya. sering2 aja, biar penulisnya terpacu ngapdet blog khekhekhekhek πŸ˜‰

    Suka

     
  6. Herdi

    Oktober 26, 2013 at 11:16 am

    Permisi, mbak…..
    Saya sedang iseng-iseng browsing tentang operasi usus buntu (appendectomy), karena salah satu teman dekat saya baru saja menjalaninya dalam sebulan terakhir ini. Dan baru kali ini saya menemukan blog yang isinya berbagi cerita tentang pengalaman menjalani pembedahan tersebut (entah memang hanya mbak sendiri yang berbagi cerita lokal ini dalam blog, atau saya yang nge-browse-nya kurang rajin?). Namun yang jelas, cerita mbak menggelitik untuk membuat saya ingin berbagi cerita serupa.

    Saya juga pernah menjalani operasi seperti teman saya dan mbak, tapi bedanya, usus buntu saya hanya menemani saya selama 5 tahun 4 bulan 3 minggu dan 2 hari saja. Benar! Saat itu saya masih TK, mbak. Saat itu masih tahun 80-an dan peralatan penunjang pembedahan belumlah secanggih sekarang. Diagnosa radang usus buntu yang awalnya menyerupai sakit maag akut menyebabkan saya hampir tak tertolong saat itu. Dokter-dokter pertama tetap bersikukuh bahwa saya mengidap penyakit maag kronis, hingga akhirnya peradangan sudah meluas, dokter terakhir memvonis bahwa saya menderita radang usus buntu dan secara darurat membuat surat pengantar ke RS terdekat. Ortu saya panik karena saat itu perut saya sudah membengkak seperti anak busung lapar akibat peradangan yang agak terlambat ditangani. Bukan hanya melintir menahan sakit, bahkan apabila perut saya yang membengkak itu tersentuh sedikit saja, sakitnya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Saya ceritakan kesan-kesan saya:

    1. Di UGD, waktu itu belum ada teknik atau alat untuk mendeteksi seberapa luas peradangan yang telah menginvasi perut saya. Jadi, pada saat saya telentang, tiba-tiba salah satu asisten dokter di sana menekan perut saya sekuat mungkin (sakitnya? ga usah dibayangkan, ya?). Dari reaksi warna kulit perut saya (setelah ditekan mendadak sekuat-kuatnya), luas peradangan akhirnya bisa dideteksi (maklum, masih serba manual dan belum otomatisasi seperti mesin ATM).

    2. Saat pemasangan infus, dll. Pada waktu itu, jarum infus itu ngga seperti sekarang. Pada waktu itu jarum infus panjangnya 12 cm, dan lebarnya 2 mm, uda mirip jarum untuk menjahit sepatu! Karena saat itu sudah memasuki tahap emergency, maka jarum infus harus dipasang secepatnya. Saat jarum itu ditusukkan (sakitnya juga ga perlu diceritakan, deh), darah sampai muncrat dari ujung jarum sampai ke tembok terdekat, karena besarnya lubang saluran jarum infus masa itu memang sama besarnya dengan jarum untuk donor darah. Lalu tangan anak usia 5 tahun kan masih pendek sekali. Karena itu lengan saya diikat dengan sebuah balok supaya ketika tangan saya bergerak, sikut saya tidak menekuk (kalau menekuk, ya ntar tu jarum nongol keluar dari kulit, jadi kayak film-film cyborg).

    3. Di ruang operasi, mungkin karena saya masih bocah, ngga ada tuh namanya lagu-laguan atau apapun itu (mungkin kalau dikasih lagu anak-anak, bukannya rileks, tapi malah semangat). Dinginnya AC ruang operasi benar-benar serasa sampai menusuk sumsum bagi saya yang waktu itu masih berupa bocah kurus. Di meja operasi, dokter anestesi hanya menyuruh saya berhitung. Setelah itu tidak ingat apa-apa lagi hingga ketika siuman, saya sudah berada di ruang opname.

    4. Di ruang opname, menahan dahaga untuk bocah seperti diri saya waktu itu benar-benar sangat menyiksa. Makanan memang disuplai dari infus, namun untuk rasa dahaga di mulut, tidak bisa disuplai dari infus. Saya hanya diijinkan minum air 3 sendok makan sehari, karena jahitan di dalam usus belum benar-benar menutup. Jadi bila terlalu banyak minum air, air itu sudah pasti bakalan bocor keluar dari perut bagaikan balon bocor yang diisi air (memang serem). Dan saya baru diijinkan minum air…..setengah gelas sehari…..3 minggu setelah operasi (masih nyiksa).

    5. Sebulan setelah operasi, saya sudah boleh minum air dan diijinkan pulang/rawat jalan. Pantangan saya waktu itu, tidak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung kedelai hitam (baca : kecap!) selama 5 bulan kedepan. Tidak begitu menyiksa. Tapi sebulan setelah saya di rumah, saya disuruh kembali ke RS untuk….mencabut benang-benang pasca operasi yang tebalnya seperti benang rajut. Digunting, lalu ditarikin satu-satu. Ngga ada namanya bius-biusan untuk cabut benang! Nyerinya, serasa sampai ke ujung rambut. Total 10 bulan setelah operasi, baru saya diijinkan mengikuti kegiatan fisik seperti olah raga, dll.

    Saya tetap mengingat detail kelima kesan-kesan tersebut sampai kapanpun walau ada kesan-kesan lain yang tidak sempat saya tulis di sini, atau kurang saya ingat dengan detail.
    Karena saat itu saya masih bocah ingusan, saya tidak tahu itu namanya rasa takut sebelum dioperasi karena saat itu saya masih belum mengerti apa-apa. Dan saya juga tidak tahu sibuknya ortu saya mondar mandir ngurusin semua prosedur untuk pelaksanaan pembedahan.
    Kalau cerita saya kepanjangan, maaf ya mbak. Dan kalau cerita saya malah membangkitkan kenangan buruk mbak saat operasi usus buntu, mbak ignore saja balasan saya, saya sangat memahaminya, kok. Saya hanya berbagi cerita saja. Saya juga ingin berbagi cerita tentang teman saya yang baru dioperasi sebulan lalu, tapi mungkin lain kali saja (takutnya malah jadi ngebosenin gara-gara kepanjangan).
    Pemulihan total operasi usus buntu itu makan waktu 1 tahun, mbak. Jadi jaga diri mbak baik-baik, dan semoga mbak sukses dan selalu sehat kedepan.

    Suka

     
  7. nisbroth

    Oktober 26, 2013 at 1:39 pm

    @herdi issshhh!! ngilu saya baca pengalamannya mas! Brarti yg saya rasakan kemarin blm ‘seberapa’ ya? πŸ˜€ dibikin tulisan dong pengalamannya, jd pengetahuan loh buat yg baca. thanks udh mampir, moga mas jg sukses dan selalu sehat ya πŸ˜‰

    Suka

     
  8. Herdi

    Oktober 27, 2013 at 4:44 am

    ….amin, mbak. Makasih kembali.

    Ya, beda lah, mbak. Itu kan pengalaman saya karena “setting waktu itu” masih tahun 80-an. Sekarang jaman kuda makan pizza, kalau jaman saya dulu masih jaman kuda makan kuda, masih jaman “primitif”. Teknik pembedahan usus buntu dan peralatan-peralatan pendukung seperti jarum infus, yang seperti saya ceritakan sebelumnya, sudah ditinggalkan sejak awal tahun 90-an karena sudah tidak valid lagi. Jadi saya hanya iseng-iseng berbagi cerita saja, dan sama sekali nggak bermaksud membanding-bandingkan antara pengalaman saya dengan pengalaman mbak. Lalu, karena saya bukan blogger, tulisan tentang pengalaman saya nebeng di sini saja, di blog nya mbak (tanpa ijin…maaf).

    Lalu karena saya pernah menjalani pembedahan di bawah umur, semua kerabat dan teman-teman saya bilang, kalau saya berada di RS (sedang membesuk), saya jadi seperti sulit di ajak ngobrol, jadi seperti patung berjalan. Hanya ortu saya yang tahu penyebabnya. Mungkin masih ada rasa trauma yang tersisa (no idea). Termasuk ketika membesuk teman dekat saya yang baru menjalani operasi serupa sebulan yang lalu. Biasanya “pelit bicara” saya di RS (berdasarkan penilaian salah satu teman dekat saya), saya bicara paling banyak kira-kira cuma 5 – 8 kalimat pendek per jam. Kecuali sewaktu membesuk teman dekat saya yang satu ini karena banyak saling curhat sebagai orang-orang yang pernah menjadi pasien operasi usus buntu. Saya cerita sedikit pengalaman teman dekat saya.

    Ortu dan abangnya ngurus macem-macem di RS (administrasi, dll), dan namanya jg cewe, keperluannya bejibun. Abang dan cowo-nya teman dekat saya sudah seperti seterikaan, jurusan rumah-RS PP, ngambilin barang-barang “yang diperlukan” oleh teman dekat saya (soalnya saya juga sempat beberapa kali nemenin cowo-nya atau abang-nya ngambilin bbrp pernak-pernik temen deket saya di rumahnya untuk dibawa ke RS).

    Sama seperti pengalaman salah satu teman dekat saya, dia juga dioperasi tanpa bius total seperti mbak. Masih sadar saat dioperasi karena menggunakan bius lokal. Untung dia nggak gemuk. Kalau gemuk (katanya) operasi nya jadi agak lama (ga tahu ini cuma rumor atau ngga). Di ruangan opname, setelah pengaruh bius nya mulai hilang, kan mulai kesakitan tuh; Nah saya ceritakan pengalaman saya sedetail-detailnya kepada dia, dan dia ga berani nangis kalau ada saya di deket dia (soalnya dia nangisnya kalau saya lg keluar RS krn ada keperluan).

    Besoknya, karena ortu, abang, dan cowo-nya mesti sibuk dengan kerjaannya masing-masing dan kebetulan saya sedang off, saya yang menjaga dia di RS (khusus shift siang). Akhirnya kita saling cerita bertukar pengalaman dengan dia, dan saya baru tahu kalau dia ngga dibius total ketika dioperasi. Dan mungkin salah satu sisi jahat saya, saya malah ngiri lihat ukuran jarum infusnya yang kecil, tipis, lentur, dan pendek. Dalam hati saya : “Enak banget! Jarum infusnya segitu doang!”. Belum lagi rasa iri saya mendengar cerita pengalamannya dia yang digunakan teknik-teknik dan alat-alat pendukung canggih lainnya. Mungkin saya bukan temen yang baik kali, ya? Bukannya bersyukur, tapi malah ngiri….huk!…

    Lalu dia cerita, operasinya sempat di delay 1 jam karena ada orang lain sedang dioperasi, padahal dia uda bugil dan cuma ditutupi selimut. Padahal perut uda sakit bgt. Lalu akhirnya giliran dia masuk ke ruang operasi. Dokter bilang katanya usus buntunya letaknya agak ke atas sedikit (dll, dan pembicaraan lainnya ga dia pahamin, jadi dia males cerita), lalu disuntik bius spinal yang lumayan nyakitin. Meja operasinya katanya agak ramping dan bentuknya + juga. Ada kain-kain straples agak gede di meja itu. Setelah dia berbaring telentang, kain straples yg agak gede itu dililitkan oleh seorang dokter ke sepanjang pangkal pahanya dari kiri ke kanan, lalu ditarik sehingga ikatan mengunci. Sret! Pinggul uda ga mungkin bisa bergerak di atas meja operasi walau ikatannya ga terlalu kencang. Dia kira cuma begitu, eh ga taunya masih ada kain straples lagi, kedua kakinya diluruskan dan dirapatkan oleh dokter tadi, lalu kedua engkel juga dililit ama tu kain straples yang juga nempel di meja itu, dan ditarik mengikat juga. Sret! Kaki-kaki juga “secured”, lurus rapat ga bisa gerak. Walau diajak ngobrol dan guyon oleh dokter-dokter dan perawat-perawatnya tetap saja dia deg-degan (maklum, saat itu dia pertama kali dioperasi). Jarum-jarum lain dan alat pengukur tekanan darah dipasang di tangan dan lengan. Dan yang membuatnya agak panik, 2 orang dokter masing-masing memegang kedua lengannya, merentangkannya selurus mungkin, dan melilitkan kain straples pada kedua pergelangan tangannya di atas ujung-ujung papan horisontal yang melintang di meja operasi itu. Tak seperti kain-kain straples tebal yang lain, kain-kain yang menempel di papan tempat meletakkan lengan itu memang ngga segede yang sebelumnya (walaupun sama tebalnya). Setelah kedua dokter itu masing-masing melilitkan kain straples itu pada pergelangan-pergelangan tangannya, lalu secara bersama-sama kain itu ditarik ke arah bawah untuk mengikatnya di atas papan itu. Sret! Kedua tangannya juga “secured”, terentang lurus tak bisa bergerak. (Karena pembedahannya dalam keadaan sadar, maka jumlah ikatannya juga berbeda karena terkadang ada kemungkinan gerakan-gerakan refleks yang dapat mengganggu jalannya pembedahan.) Posisi dia juga berbentuk + dan hanya kepalanya yang bisa bergerak-gerak. Dia bilang, dia sih memang nggak panik lebay, tapi deg-degannya itu semakin menggila karena ngebayangin seperti diikat di altar pengorbanan gara-gara kebanyakan nonton film-film horor. Oksigen dipasangkan oleh perawat, pinggang ke bawah lumpuh mati rasa karena bius, dan akhirnya pembedahan dilaksanakan dengan lancar.

    Ok, mbak! Maaf nih kalau blog nya saya jadiin tempat berbagi cerita lagi. Ga mau terlalu panjang atau detail deh, biar ga ngebosenin ntar. Namun yang jelas, usus buntu itu sendiri merupakan organ yang ngga ada kegunaannya sama sekali bagi tubuh. Para ahli masih mencoba menguak misteri “mengapa mesti ada usus buntu?”. Ada yang menjawab, bahwa usus buntu itu adalah bagian dari evolusi tubuh manusia yang belum selesai, dll. Kita tunggu saja jawaban-jawaban dari para ahli yang sedang mencari jawabannya. Best regards, madam.

    Suka

     
  9. Herdi

    Oktober 27, 2013 at 7:04 am

    Oh iya, ada yang lupa. Sebulan lalu itu saya memang membesuk dua orang teman dekat saya. Yang satu (cowo) dioperasi akibat radang usus, dan yang satu lagi (cewe) dioperasi usus buntu (seperti cerita saya di atas). Sebagai peringatan juga. Teman saya yang sempat dioperasi karena mengidap radang usus itu, diakibatkan karena selama bertahun-tahun terlalu banyak mengkonsumsi mie. Berbahaya bila terlalu banyak makan mie (saya percaya mbak juga pasti sudah mengetahuinya). Untung sakitnya belum parah, jadi dia di RS hanya 3 hari dan operasinya juga ngga berat. Lalu makanan yang membahayakan bagi usus juga adalah daging bakaran (sate, barbeque, panggangan). Residu asap pembakaran arang itu akan tetap mengendap di usus selama bertahun-tahun. Untuk mencucinya, dibutuhkan timun! Tentunya mbak pasti ingat, kalau beli sate, pasti dikasih timun oleh penjualnya. Nah! itu mmg merupakan pencegah terjadinya timbunan bakaran daging di usus. Kalau info kecil ini memang sudah diketahui oleh mbak ya gpp, cuma mau ngasih tau aja. Ok! Semoga kesehatan terjaga! Dan sukses ya, mbak!

    Suka

     
  10. nisbroth

    Oktober 27, 2013 at 7:59 am

    @Herdi wuahhh lengkap ceritanya. informasi sekecil apapun jgn ragu untuk dibagi, pasti bermanfaat buat yg baca πŸ˜‰

    Suka

     
  11. Herdi

    Oktober 27, 2013 at 9:31 am

    Yah, semoga bermanfaat deh. πŸ™‚

    Lalu ada info pahit jg ttg appendectomy. Untuk kaum cowo, yang pernah menjalani operasi usus buntu teknik “uzur” (tahun 2000 ke bawah) itu beresiko tinggi terjadinya kemandulan, mbak. Saya sendiri sih belum berkeluarga, tapi apabila saya ternyata benar-benar mandul, ya apa boleh dikata. Berarti jalan hidup saya memang sudah digariskan demikian (dan nggak boleh menyalahkan Tuhan).

    Di ruangan operasi, ternyata tiap cara menangani pasien itu berbeda-beda di tiap RS, ya? Kalau prosedur pembedahannya sih (yakin) memang sama. Tapi setelah membaca-baca blog mbak ini bbrp hari lalu, ternyata cara penanganan kepada mbak sebagai pasien itu berbeda dengan teman dekat saya yang saya ceritakan sebelumnya. Di imej saya, mbak tu seperti hanya berbaring santai dgn lengan di kiri dan kanan yg “ditahan” pake tali staples. Beda bgt dgn temen saya yg saat itu, kain sabuk staples tebal (soalnya lebarnya uda ga bisa lagi disebut tali) itu seperti gelang-gelang lebar yang “menghiasi” pergelangan-pergelangan tangan dan kakinya, lalu sabuk staples yang paling lebar melintang di bagian bawa panggulnya, bagaikan sedang mengenakan rok supermini yang ketat. Posisi mbak dan temen saya itu ya sudah pasti sama-sama bentuk +. Tapi rasanya proses pembedahan mbak serasa lebih “damai” dibanding dengan temen saya. Saya kira semua penanganan di meja operasi sama. Ternyata cara yg dialamin temen saya udah kayak “medan perang”. Beda bgt? ?_?

    Suka

     
  12. Herdi

    Oktober 28, 2013 at 11:24 am

    Info terakhir. Kalau bisa, kerjaan mbak jangan terlalu melelahkan, atau jangan menempuh perjalanan yang terlalu jauh dulu. Indikatornya : bekas luka pembedahannya mbak. Kalau masih sering rada-rada gatal, berarti belum bener-bener boleh kerja “rodi” spt biasa dan bahkan belum boleh “berpetualang” menempuh perjalanan jauh. Waktu pemulihan setiap orang berbeda-beda. Ada yang 10 bulan sudah pulih total, ada yang mesti 12 bulan, baru pulih total, tergantung metabolisme orang yang bersangkutan. Kalau belum apa-apa sudah langsung kejar setoran, nanti pemulihan total nya jadi tambah lama. Misalnya, semestinya 11 bulan, malah jadi 15 bulan. Nah! Kan malah jadi ngga gitu produktif? Jaga diri mbak ya? Jangan remehkan usus buntu, karena bagian usus yang dipotong usus buntunya membutuhkan waktu pemulihan yang lama. Analoginya seperti ini : bagian tubuh seperti siku dan lutut, apabila terluka, pemulihannya lebih lama dibanding dengan anggota tubuh lain. Karena siku dan lutut itu terus bekerja berdasarkan pergerakan kita. Nah, usus itu “kesibukannya” minimal sepuluh kali lebih sibuk daripada siku atau lutut, karena merupakan motor dari metabolisme tubuh. Siku dan lutut bisa kita kontrol gerakannya, tapi kalau usus kan ngga bisa. Masa ususnya mau kita bius terus? Serius, jagalah diri mbak. Terkadang kita memang harus mundur selangkah untuk bisa berlari hingga seratus langkah ke depan mengejar cita-cita.

    Jujur, baru kali ini saya pernah bertukar cerita seputar appendectomy dengan “seru” di blog seseorang. Sulit kalau cerita di blog-blog orang-orang asing, karena teknik pengobatan mereka sudah sangat maju, dan istilah-istilah kedokteran mereka banyak sekali yang tidak saya pahami, sehingga pembicaraannya jadi sulit nyambung. Saya merasa sangat beruntung pernah “berlabuh” dan berbagi cerita di sini (walau hanya sebentar, dan cerita-ceritanya mungkin membuat perasaan mbak kurang nyaman). Pengalaman pernah mengalami pembedahan itu memang bukan kisah yang menyenangkan bagi siapapun. Namun, bisa berbagi pengalaman di sini membuat saya merasa “jumlah hantu dari masa lalu” saya semakin berkurang jumlah/beratnya. Saya sangat berterima kasih kepada mbak. Terima kasih banyak ya, mbak.

    Kini tiba waktunya bagi saya untuk kembali “berlayar” dan “menghilang” di lautan informasi. Dan saya minta maaf sebesar-besarnya apabila mungkin kalimat-kalimat yang pernah saya tulis di sini terdapat kesalahan atau membuat perasaan mbak kurang nyaman. Semoga tujuan cita-cita mbak bisa tercapai, dan kesehatan mbak bisa selalu terjaga. God Bless You. And, good bye…..

    Suka

     
  13. nisbroth

    November 3, 2013 at 8:35 am

    @Herdi you too… God bless you πŸ™‚

    Suka

     
  14. Sanly

    Mei 20, 2014 at 5:20 pm

    Halo mba nis… πŸ™‚
    Udh genap 10hari dr tanggal saya operasi usbun kmrn, senang bs nemu blog nya mbak krn saya akhirnya bs nemu temen senasib (lho kok mbaknya sakit saya senang hehehhe peace)

    Udah 4hr ini saya browsing2 ttg operasi usbun tp kebanyakan skrg mereka ud pk teknik laparaskopi sedangkan saya masi bedah biasa alias laparatomy.
    Cuma mau memastikan kalau apa yg saya rasain (sakit perut menggila stelah operasi) adalah umum trjd pd pasien2 pasca operasi. Soalnya yg laparaskopi katanya mmng canggih dan enggak sakit.

    Saya mau tny mbak ngerasain sakit perutnya d bagian operasi atau hampir selurug perut? Krn saya dikiri dan ditengah jg sakit pokoknya smuanya sakit deh, krn saya orgnya parno an takutnya ini bukan gejala umum org2 yg habis dibedah hehehe

    Saya terbantu sekali dgn blog yg mbak buat krn saya akhirnya tau apa aja yg terjadi slama operasi dr crita mbak (krn saya dibius total n gatau apa2)

    Menurut saya stelah baca blog mba, mbak jauh lebih kuat spertinya drpd saya. Just sharing saya dibius total bbrp menit stlh msuk ruang operasi dan benar2 tdk tau apa2 , tau2 bangun uda d icu dan dikasi selang yg ngeluarin udarahangat gt krn saya kedinginan stengah mati, dan luka saya hanya sebesar kurleb 5cm dan kecil sekali, btw mbak butuh brp lm utk bs sehat total?

    Saya 7hr stelah operasi ud merasa baik dan sakit d perut pun sudah tdk parah n nekat ngemall 2harian penuh, alhasil mlmnya tumbang n muncullah sakit perut di bagian kiri dan atas pokoknya menyebar. Apa mbak ngerasain jg?

    Btw thx u n sorry commentnya panjang buanngettt heheehe

    Suka

     
  15. nisbroth

    Mei 23, 2014 at 6:11 am

    @Sanly: Halo mbak, bagaimana keadaannya sekarang? Sudah lebih sehat? Menjawab pertanyaan mbak, saya nurut banget apa kata dokter. Disuruh istirahat 1 minggu, malah saya lebihin jadi 2 minggu. Saya gak kemana-mana. Gak angkat2 yang berat, gak mau capek-capek. Bener-bener siapin fisik supaya fit dan siap beraktivitas lagi. Dalam 2 minggu itu saya merasa sehat total Alhamdulillah. Kalau pun ada sedikit sakit-sakit, itu lebih ke ngilu di sekitar bekas jahitan, dan itu berangsur menghilang. Itu aja sih. Kalo denger cerita mbak, seminggu udah jalan ke mall, walahh berani sekali ya πŸ˜€ Untuk lebih amannya, lebih baik cek lagi ke dokter yang dulu merawat, karena dia tahu riwayatnya kan. Jadi kalau kenapa-kenapa bisa langsung diatasi. Jangan dilama-lamain πŸ™‚

    Suka

     
  16. dian puspita

    Desember 7, 2014 at 3:09 pm

    Membantu bingits mba tulisannya. Besok nih sy mau operasi UBuntu ini, tulisan mba dikit banyak memberi gambaran ttg apa yg bakal q alamin besok, halah, hehe. Makasih yaa dah mau berbagi pengalaman πŸ™‚

    Suka

     
  17. nisbroth

    Desember 8, 2014 at 4:58 am

    @dian: Halo Dian salam kenal! Semoga lancar operasinya dan lekas pulih ya! Inget, habis operasi disayang2 badannya. Jaga kesehatan! πŸ˜‰

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s