RSS

Selamat Ulang Tahun

28 Agu

Teh Petty

Formulir tiga halaman sedang ditekuni kakak laki-laki saya. Saya ikut mencermatinya. Lebih tepatnya pura-pura mencermati saja karena sebenarnya pikiran sedang tidak fokus. Saya yakin kakak saya pun demikian.

Sampai tiba di salah satu isian kolom, dia tampak ragu-ragu untuk menuliskan informasi. “Teh Petty tanggal lahirnya?”. Lalu saya tertegun. “Agustus tanggal 27 atau 28 ya..,” ucap saya pelan.

Mencoba mengingat, kebetulan minggu sebelumnya saya baru fotokopi kartu keluarga. Tercantum tanggal lahir semua anggota keluarga inti di situ. Blank! Astagfirullah…

Saya langsung menelepon Mama untuk memastikan. “28 Agustus 1977 sayang…,” di seberang sana suaranya terdengar menahan tangis. Saya tidak mau berlama-lama dan segera mengakhiri telepon.

Mama, tidak mungkin lupa detail kelahiran anak-anaknya. Beliau bahkan sempat menyebutkan tanggal dan tahun hijriah-nya meski tidak diminta dalam formulir yang sedang diisi kakak saya.

Setelah menyampaikan informasi yang benar untuk dicantumkan dalam formulir, saya meninggalkan kakak saya di resepsionis rumah sakit.

Membiarkan dia menyelesaikan formulir tersebut dengan segala tetek bengeknya. Waktu menjelang magrib, saya memilih untuk membeli makanan untuk berbuka puasa saya dan dia.

Bulan Ramadhan waktu itu. Teh Petty berpulang pada 18 Ramadhan 1436 H. Innalillahi wainnailahi rojiun…

Peristiwa 53 hari lalu itu mendadak teringat lagi di kepala saya. Hari ketika kami sekeluarga, dalam keadaan kalut mencoba tetap berpikir jernih, tetap menyimpan harapan untuk kesembuhan kakak perempuan saya nomor dua.

Hari ini, ulang tahun teh Petty.

Hal pertama yang terpikir adalah Mama. Sebuah SMS saya kirimkan kepadanya tadi pagi. “Hari ini ulang tahun teh Petty. Mama pasti nangis ya,” kata saya. Mama membalas “Nggak kok, Mama bikin nasi kuning nih. Pulang nggak?.”

Sudah saya tebak, Mama pasti bohong. Karena tidak berapa lama kemudian, kakak laki-laki saya mengirim pesan. “Kalau lagi gak sibuk sering-sering telepon Mama ya. Lagi keingetan terus tuh. Hari ini kan ulang tahun teh Petty,” ujarnya.

Sore, saya menelepon Mama cukup lama. Rasa sedih tak bisa disembunyikan dari nada bicara Mama. Saya mau bilang, “Kalau mau nangis, nangis aja Ma.” Tapi saya takut ikut nangis kalau Mama nangis.

Mama menyibukkan diri dengan membuat nasi kuning. Memang sudah kebiasaan Mama, setiap kali ada anggota keluarga ulang tahun, selalu dibuatkan nasi kuning lalu diantarkan ke tetangga-tetangga terdekat.

“Papa lagi apa?,” tanya saya. “Biasa, lagi ngopi,” jawab Mama. Mungkin iya Papa sedang menyeruput kopi. Tapi saya tahu kalau Papa pasti juga sedih. Sejak teh Petty gak ada, Papa adalah orang yang sering saya pergoki menangis diam-diam usai shalat.

Saya membayangkan keduanya sejak tadi pagi (mungkin malam-malam sebelumnya) sudah mengingat-ingat tanggal ini, 38 tahun lalu ketika tangisan pertama teh Petty pecah. Rasa syukur Mama melahirkan teh Petty dengan selamat, dan Papa yang sambil berkaca-kaca mengumandangkan adzan di telinga mungil teh Petty.

Saya sendiri tenggelam dalam ingatan-ingatan tentang teh Petty. Terutama tentang ulang tahunnya. Tahun lalu saya tidak membelikan kado, juga tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Saya tidak terbiasa mengucapkan ‘Selamat ulang tahun’ untuk dia. Saya gengsi, kaku, malu mengucapkannya.

Biasanya saya belikan sesuatu, lalu memberikannya sambil bilang “Nih, cieee ulang tahun. Dipake yeee.” Itu pun kasih kadonya gak pas ulang tahun. Biasanya molor sampai berapa minggu, bahkan kadang bulan. Tapi teh Petty polos. Dia menerima saja. Paling-paling dia tertawa dan meledek “Ulang tahunnya udah lewaaat”

Tapi tahun kemarin parah. Saya menunda dan terus menunda, sampai akhirnya lupa gak beli kado. Semula, niatnya membelikan sepatu yang sama seperti yang saya kadokan untuk Mama dan kakak perempuan nomor satu. Supaya cewek-cewek di rumah kami kompak sepatunya sama.

Minus saya sih, karena itu jenis sepatu ‘manis’ yang gak cocok di kaki saya. Saya bilang dalam hati, “Nanti pas ulang tahun Agustus ini deh kadonya sekalian sama ulang tahun kemarin”.

Teh Petty gak pernah minta, bahkan sama sekali gak menganggap saya berhutang. Tapi saya yang sekarang menyesal dan merasa berhutang kado untuknya.

I’m very disappointed with myself because I didn’t wish you on your birthday. I hope that you’ll forgive me. But at the same time, I’m happy to know that you are in a better place now. This being your first birthday in your new ‘royal residence’. Happy birthday teh…

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha wa akrim nuzulaha wawassi’ madkhalaha waj’alil jannata maswaha. Allahumma la tahrimna ajraha wa la taftinna ba’daha waghfir lana wa laha

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 28, 2015 in Daily Life

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s