RSS

Arsip Kategori: Opinion

Cerita ‘Skip Ad’

Belakangan ini saya agak lebih friendly sama iklan YouTube. Kalo dulu biasanya gak sabar mau ngeklik ‘Skip Ad’, sekarang mau liat dulu iklannya kaya apa.

Soalnya beberapa iklan udah mulai mikirin campaign yang kreatif. Bukan lagi model hard selling, tapi dikemas dengan tayangan yang menarik, bahkan seringkali inspiratif.

Contohnya hari ini, waktu mau dengerin lagu barunya Adelle, gak sengaja nemu iklan Bank Mandiri yang nampilin Pandji Pragiwaksono. Gak jadi klik ‘Skip Ad’ malah ditonton sampai habis.

Gila, backsound lagunya bikin merinding. Gak terasa mata ikut berkaca-kaca. Bahkan setelah nonton berkali-kali, feelnya tetep sama. Bikin nangis ding! Anjrit Pandji, ngena banget. Membangkitkan jiwa nasionalisme. Cekidot!

PS: Bukan tulisan berbayar πŸ˜€

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 4, 2015 in Opinion

 

Tag: , , ,

Pilih-pilih

Pilih-pilih. Pikirkan baik-baik, keputusan ada padamu. Karena sebuah pilihan, bisa mengubah hidup ke depannya. Hmmmmmm *memicingkan mata, alis naik turun, ngomong sama kaca*

Ini adalah soal pilih-pilih…

Read the rest of this entry »

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2015 in Opinion

 

Tag: , , , , , , , ,

Memilih untuk Memilih

Social media riuh dengan update status dan kicauan tentang Pemilu Legislatif, jauh sebelum 9 April 2014, waktu pelaksanaan prosesi coblos-coblosan digelar. Tapi yang selalu menarik perhatian saya di saat rame-rame Pemilu adalah eksistensi golput.

“Pilih parpol apa? Coblos caleg siapa? Gue males nyoblos, gak ada yang kenal. Gak percaya ama parpol, golput aja lah.”

Read the rest of this entry »

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 9, 2014 in Opinion

 

Tag: , , ,

@SBYudhoyono: Halo Indonesia. Salam Kenal!

SBY (IndonesiaRayaNews)

SBY (IndonesiaRayaNews)

“Halo Indonesia. Saya bergabung ke dunia twitter untuk ikut berbagi sapa, pandangan dan inspirasi. Salam kenal. *SBY*”

Demikian sapaan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono melalui akun Twitternya yang baru diperkenalkan ke publik Sabtu (13/4/2013). Segala sesuatu yang pertama kali itu selalu menarik untuk dirumpiin. Tak terkecuali akun dengan ID Twitter @SBYudhoyono ini. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 14, 2013 in Opinion

 

Tag: , ,

Duh, Semrawut!

(Ist/Getty Image)

Jam menunjukkan pukul 09.18 WIB saat saya tiba di stasiun Pasar Minggu dari Bogor pagi itu. Bergegas saya keluar stasiun, menyambung metromini menuju kantor. Untuk mendapatkan metromini itu saya harus melewati jalanan pasar, dimana kendaraan hilir mudik sesukanya. Terutama ojek! Duuh.. hanya Tuhan dan tukang ojek itu sendiri yang tahu, kapan dia akan belok atau berhenti. Benar-benar menyebalkan. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 1, 2011 in Opinion

 

Tag: ,

Mulutmu (juga) Harimaumu (di Facebook)

Ada banyak kata untuk menggambarkan Facebook. Bagiku, Facebook itu MENGGEMASKAN! hahaha.. Bagaimana tidak, ketika tampilan Home menyambut pandangan mata, otakku langsung bereaksi, berpikir keras mengumpulkan sejumput kalimat untuk ditumpahkan pada update status. Belum lagi memperhatikan News Feed berisi sederet aktivitas dan buah pikiran teman-teman Facebook, kerap menggodaku untuk nimbrung. Paling tidak, dari ratusan update yang terbagi dalam kategori Top News dan Most Recent itu, ada dua atau tiga yang memancingku ikut memberikan komentar. Jika sudah demikian, itu sama artinya aku melibatkan diri dalam sebuah percakapan. Tak jarang, percakapan itu menjadi seru dan saling berbalas, hingga semua yang terlibat dalam postingan itu kelelahan menanggapinya πŸ˜€ Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 5, 2010 in Opinion

 

Tag: , , , ,

Anarkisme Berbalut Demokrasi

waspada online
Peristiwa yang sudah sering terjadi sebelumnya seharusnya bisa menjadi pelajaran bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah . Namun, lagi-lagi anarkisme terjadi di Indonesia. Di Sumatra Utara, ketika pada 3 Februari 2009 lalu massa berunjuk rasa di kantor DPRD setempat. Aksi massa yang mendesak pengesahan provinsi Tapanuli Utara ini ternyata menjadi ricuh dan tidak terkendali. Massa merangsek masuk ruangan dan mengambil alih rapat paripurna yang sedang berlangsung serta merusak berbagai fasilitas. Tak hanya itu, orang-orang yang tengah meradang ini pun melampiaskan amarahnya dengan melakukan pemukulan terhadap ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat. Insiden ini pun harus berujung pada tewasnya sang ketua DPRD.

Lihatlah, anarkisme ujung-ujungnya hanya akan merugikan banyak pihak, timbulnya masalah baru, bahkan sampai berakibat hilangnya nyawa seseorang. Yang menyedihkan, tragedi semacam ini merupakan cerminan degradasi moral dan ketidakdewasaan cara berpikir. Dengan menggebu-gebu mereka katakan inilah bentuk kebebasan berpendapat dan bertindak di negara demokrasi. Tapi nyatanya perilaku mereka sangat jauh dari makna sejati sebuah demokrasi.

Jika kita tengok ke belakang, gerakan aksi massa menjadi kian marak sejak dimulainya reformasi. Pada Mei 1998, terjadi aksi demonstrasi besar-besaran menuntut pembaharuan politik di negeri ini. Kala itu semangat reformasi meniupkan ruh kebebasan di alam demokrasi yang baru dan telah mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih kritis, berani berpendapat dan bersikap. Namun pada perkembangannya, bagi yang tidak paham betul, kebebasan ini menjadi kebablasan. Tak jarang sebuah aksi unjuk rasa disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak berkepentingan langsung dengan tujuan unjuk rasa itu sendiri. Akibatnya aksi massa menjadi tidak terarah dan cenderung menuju pada tindakan perusakan.

Anarkisme mungkin juga terjadi karena perilaku meniru. Terjadinya aksi kekerasan dalam frekuensi yang sering lama kelamaan bisa membuat orang menjadi bebal dan menganggapnya sebagai hal yang biasa sehingga terdorong untuk menirunya.

Bagaimanapun, tindakan anarkis tetaplah tidak bisa dibenarkan. Tindakan seperti ini telah menodai semangat reformasi dan demokrasi. Bangsa kita masih perlu banyak belajar mewujudkan kebebasan berdemokrasi yang cerdas dan dewasa, tidak asal ikut-ikutan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2009 in Opinion